(Krisis Timur Tengah Memanas – Tanker Iran Ditahan, Kapal China Diperingatkan, Harga Minyak Global Terancam Naik)
WASHINGTON – Amerika Serikat secara resmi memberlakukan blokade angkatan laut penuh terhadap semua pelabuhan Iran di Selat Hormuz dan Teluk Oman mulai Senin (13 April 2026).
Langkah ini diumumkan oleh U.S. Central Command (CENTCOM) dan langsung diberlakukan dengan kekuatan besar, melibatkan lebih dari 10.000 pasukan AS, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat tempur.
Menurut pernyataan CENTCOM, blokade ini menghentikan seluruh perdagangan ekonomi melalui laut yang masuk dan keluar dari Iran.
Kapal-kapal Angkatan Laut AS telah mencegat dan memutar balik beberapa tanker minyak Iran.
Hingga berita ini diturunkan, setidaknya delapan tanker Iran telah dihalangi, termasuk dua tanker yang berangkat dari Pelabuhan Chabahar.
Sementara itu, lebih dari 20 kapal komersial non-Iran diizinkan melintas bebas melalui Selat Hormuz selama tidak menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Namun, sebuah tanker China sempat diblokir atau diberi peringatan keras selama operasi penegakan blokade berlangsung.
Blokade ini diterapkan secara tegas dan imparsial terhadap semua kapal dari berbagai negara yang mencoba memasuki atau keluar dari wilayah pelabuhan Iran di Teluk Persia maupun Teluk Oman.
Tujuannya adalah membatasi kemampuan Iran mengekspor minyak mentahnya yang mencapai sekitar 1,8–2 juta barel per hari, sehingga memberikan tekanan ekonomi maksimal pasca-gagalnya putaran terakhir perundingan damai antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa blokade ini diperlukan untuk mencegah Iran “memeras” dunia melalui pengendalian jalur perdagangan vital tersebut.
Namun, AS menegaskan tetap menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz untuk lalu lintas internasional yang tidak terkait dengan Iran.
Hingga saat ini, belum ada laporan insiden tembak-menembak, meski Iran telah mengeluarkan ancaman balasan.
Situasi di perairan strategis yang menjadi jalur utama pasokan minyak dunia ini terus dipantau ketat dan berpotensi memengaruhi harga minyak global serta stabilitas ekonomi internasional. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin