Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Gelombang Panas Ekstrem Panggang Prancis Hingga Terjadi Kematian Lebih dari 1.000 Orang

Bunga Faizati Hudianna • Selasa, 30 Juni 2026 | 12:47 WIB
Paris mengalami gelombang panas ekstrem. (Foto: Magnific)
Paris mengalami gelombang panas ekstrem. (Foto: Magnific)

RADAR MALIOBORO - Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah di Eropa Barat dan kini memicu krisis kesehatan dan logistik yang serius di Prancis. Suhu udara yang meroket hingga berkisar antara 36 hingga 40 derajat Celsius selama 11 hari berturut-turut telah memicu lonjakan angka kematian yang signifikan dalam waktu singkat.

Berdasarkan data awal sementara yang dirilis oleh Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) pada Minggu (28/6/2026), tercatat ada sekitar 1.000 kasus kematian lebih banyak (kematian berlebih) dari yang diperkirakan sejak tanggal 24 Juni.

Pihak berwenang menekankan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan besar merupakan perkiraan yang masih kurang dari jumlah yang sebenarnya (underestimated). Dari total angka tersebut, wilayah yang berada di bawah status peringatan merah menjadi yang paling terdampak, dengan kelompok lanjut usia di atas 65 tahun menyumbang 85 persen dari total kasus kematian.

Selain itu, lembaga kesehatan juga melaporkan adanya lonjakan hingga 40 persen untuk jumlah kematian yang terjadi di rumah, terutama di wilayah Ile-de-France yang mencakup Paris dan area pinggirannya. Fenomena ini memicu imbauan keras dari badan kesehatan mengenai pentingnya solidaritas dan perhatian terhadap warga lansia atau mereka yang hidup sendiri dan terisolasi di kawasan perkotaan padat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Trend, Infused Water Ternyata Minuman Sehat yang Menyimpan Banyak Manfaat bagi Tubuh

Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, membenarkan bahwa saat ini Prancis tengah mengalami jumlah kematian yang lebih tinggi dari biasanya. Melalui stasiun televisi BFMTV, ia memperingatkan bahwa dampak kesehatan akibat cuaca ekstrem ini belum berakhir, meskipun suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan mulai menurun.

Tekanan besar langsung dirasakan oleh fasilitas medis. Layanan medis darurat Paris (SAMU) melaporkan ada 80 kematian yang ditangani pada Sabtu (27/6/2026), di mana 30 kasus di antaranya disebabkan oleh serangan jantung.

Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan hari Jumat (26/6/2026) yang mencatat 109 kematian. Pihak berwenang menggarisbawahi bahwa data SAMU ini hanya mencakup kasus yang mereka tangani di Paris dan tidak mencerminkan total keseluruhan kematian di ibu kota.

Meski suhu ekstrem dilaporkan mulai mereda di berbagai daerah pada hari Minggu (28/6/2026) setelah diterjang badai petir hebat, situasi di rumah sakit masih kritis. Tim medis masih terus menghadapi tekanan akibat membeludaknya pasien dengan penyakit terkait panas serta komplikasi medis yang baru muncul belakangan.

Baca Juga: Semesta Horor Taiwan Masuki Babak Baru, 'The Rope Curse 4: Kuntilanak' Angkat Teror Mistis Berlatar Indonesia

Dahsyatnya badai petir yang menandai pergantian cuaca tersebut dicatat oleh Observatorium Keraunos, yang melaporkan lebih dari 127.000 sambaran petir di seluruh Prancis pada Sabtu (27/6/2026) malam. Aktivitas listrik paling intens terjadi di sepanjang koridor kawasan Paris hingga wilayah Hauts-de-France.

Kendati kondisi cuaca sudah lebih sejuk, badan meteorologi Meteo-France tetap mempertahankan status siaga oranye gelombang panas pada Senin (29/6/2026) untuk 22 departemen, termasuk Paris, wilayah sekitarnya, serta sebagian wilayah timur dan tenggara Prancis. Otoritas kesehatan pun meminta warga rentan untuk tetap mengambil langkah pencegahan karena dampak penuh gelombang panas terhadap keselamatan jiwa belum bisa dipastikan sepenuhnya.

Dampak dari lonjakan kematian ini berujung pada krisis di sektor pemakaman. Kamar mayat dan rumah duka di Paris dilaporkan benar-benar kewalahan dan kehabisan ruang penyimpanan jenazah akibat penumpukan yang terjadi hanya dalam waktu satu atau dua hari.

Fabien Hugues, Direktur layanan pemakaman Family Obseques, mengungkapkan betapa sulitnya situasi di lapangan.

Ia mengaku kesulitan menemukan tempat bagi jenazah di Paris, hingga terpaksa mencari fasilitas penyimpanan ke wilayah yang sangat jauh seperti Eure-et-Loir atau Normandia. Bahkan, waktu tunggu antrean untuk proses kremasi di krematorium kini terpaksa diperpanjang yang semula tanggal 16 Juli menjadi tanggal 17 Juli.

Baca Juga: Pesona Lake Como, Danau Indah di Italia Dikenal Sejak Zaman Romawi yang Jadi Tempat Wisata Favorit Selebritas Dunia

Kondisi mengerikan serupa dialami oleh pengurus rumah duka lainnya, Zouhaeir Hertelli. Ia mengaku menerima ratusan panggilan telepon hampir setiap detik dari pihak-pihak yang menanyakan ketersediaan ruang jenazah, yang terpaksa ia jawab dengan penolakan.

“Kami menghadapi situasi yang benar-benar mengerikan. Kami sedang menghadapi lonjakan kematian yang sangat besar karena gelombang panas dan kapasitas kami benar-benar penuh,” ujar Hertelli, seraya menyatakan rasa empatinya karena tidak ada solusi operasional yang bisa ia tawarkan saat ini.

Untuk mengatasi krisis ruang ini, Pemerintah Kota Paris mengonfirmasi telah memasang dua unit penyimpanan jenazah sementara yang masing-masing berkapasitas 20 tempat, ditambah 50 tempat ekstra yang disediakan oleh rumah sakit kota. Namun, bantuan tersebut belum cukup membendung badai jenazah.

Para pengurus pemakaman melaporkan bahwa mereka terpaksa melarikan penyimpanan jenazah ke luar kota, termasuk ke wilayah Chartres yang berjarak hingga 80 kilometer dari ibu kota.

Sebagai langkah darurat tambahan, Hertelli menyebutkan bahwa pihaknya kini tengah berupaya memasang kontainer berpendingin sementara di luar kamar jenazah yang berlokasi di sebelah Bandara Orly Paris, dan saat ini masih menunggu lampu hijau atau izin dari otoritas terkait. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#heatwave #cuaca panas #eropa #paris