Bukan Cuma Indonesia, Korea Selatan Juga Pernah Dilanda Tren "Kabur Dulu", Ini Alasannya

Mayang Triastiti Artamefia • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 15:01 WIB
Pemandangan kawasan permukiman di Seoul, Korea Selatan. Mahalnya harga hunian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda. (Instagram/@seoul)
Pemandangan kawasan permukiman di Seoul, Korea Selatan. Mahalnya harga hunian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda. (Instagram/@seoul)

 Fenomena "kabur aja dulu" yang belakangan ramai diperbincangkan di Indonesia ternyata bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, anak muda di Korea Selatan lebih dulu mengenal istilah 탈조선 (Tal-Joseon) atau "kabur dari Joseon", sebuah ungkapan yang mencerminkan kejenuhan terhadap kerasnya persaingan hidup di negara tersebut.

Istilah Tal-Joseon muncul bersamaan dengan sebutan Hell Joseon (헬조선), yaitu istilah yang digunakan sebagian generasi muda untuk menggambarkan Korea Selatan sebagai negara dengan tekanan hidup yang tinggi. Ungkapan itu berkembang di media sosial dan forum daring sebagai bentuk kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi.

Salah satu penyebab yang paling sering disorot adalah harga hunian yang terus meningkat, terutama di Seoul. Bagi banyak pekerja muda, memiliki rumah menjadi target yang terasa semakin sulit dicapai meski telah bekerja selama bertahun-tahun.

Persaingan di dunia pendidikan dan pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri. Mulai dari seleksi masuk universitas bergengsi hingga proses rekrutmen di perusahaan besar seperti Samsung, Hyundai, dan LG berlangsung sangat kompetitif. Tekanan tersebut membuat sebagian anak muda merasa kehidupan mereka didominasi oleh tuntutan akademik dan pekerjaan.

Di sisi lain, budaya kerja di Korea Selatan memang telah mengalami perubahan dibanding satu dekade lalu. Namun, praktik lembur dan budaya senioritas di sejumlah tempat kerja masih menjadi tantangan yang dirasakan sebagian pekerja.

Baca Juga: Kalian Harus Tahu! Bukan Asap Kebakaran, Kabut Putih di Kabin Pesawat Ini Justru Tanda Sistem Pendingin Bekerja Normal

Persoalan lain yang tak kalah besar adalah tingginya biaya membesarkan anak. Biaya pendidikan, kursus tambahan atau hagwon, hingga kebutuhan hidup sehari-hari membuat banyak pasangan memilih menunda memiliki anak atau hanya memiliki satu anak. Kondisi ini turut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan.

Berbagai tekanan tersebut membuat sebagian generasi muda tertarik mencoba hidup di luar negeri. Negara seperti Australia, Kanada, Singapura, hingga beberapa negara di Eropa menjadi tujuan yang cukup diminati, baik melalui program working holiday, melanjutkan studi, maupun bekerja di perusahaan internasional.

Namun, ramainya pembahasan mengenai Tal-Joseon bukan berarti mayoritas warga Korea Selatan benar-benar meninggalkan negaranya secara permanen.

Banyak di antara mereka yang memilih tinggal di luar negeri hanya untuk beberapa tahun guna mencari pengalaman, memperluas jaringan profesional, atau meningkatkan kemampuan kerja. Setelah itu, tidak sedikit yang memutuskan kembali ke Korea Selatan.

Keputusan pulang umumnya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sistem layanan kesehatan yang dinilai baik, transportasi umum yang nyaman, kedekatan dengan keluarga, hingga kenyataan bahwa membangun kehidupan sebagai warga asing di negara lain juga memiliki tantangan tersendiri.

Selain itu, pengalaman internasional sering kali menjadi nilai tambah ketika kembali ke pasar kerja Korea Selatan. Bekal tersebut dapat membuka peluang karier yang lebih baik bagi sebagian profesional.

Karena itu, istilah Tal-Joseon lebih banyak dipahami sebagai ungkapan frustasi terhadap tekanan sosial daripada ajakan untuk benar-benar meninggalkan Korea Selatan selamanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keinginan mencari peluang di luar negeri bukan hanya menjadi perbincangan di Indonesia. Di berbagai negara, generasi muda sama-sama menghadapi tantangan seperti mahalnya biaya hidup, sulit memiliki hunian, hingga ketatnya persaingan kerja.

Baca Juga: Tokopedia dan TikTok Shop bersama Kementerian UMKM Bantu Pengusaha Mikro Yogyakarta #JualanNyaman

 Meski demikian, keputusan untuk menetap di luar negeri ataupun kembali ke negara asal tetap bergantung pada pilihan, kesempatan, dan kondisi masing-masing individu.

Editor : Bahana.
Kabur aja dulu korea selatan