Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menyelami Sejarah dan Filosofi Nasi Tumpeng: Ternyata Selama Ini Cara Masyarakat Menikmati Nasi Tumpeng Salah

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 02:00 WIB
Nasi tumpeng digunakan dalam berbagai upacara adat dan perayaan di Indonesia (flickr.com)
Nasi tumpeng digunakan dalam berbagai upacara adat dan perayaan di Indonesia (flickr.com)

RADAR MALIOBORO - Nasi Tumpeng adalah salah satu simbol kuliner paling ikonik di Indonesia. Tumpeng, yang berasal dari Jawa dengan pengaruh budaya Hindu India, sarat dengan makna filosofis dan nilai-nilai budaya. Nama “tumpeng” berasal dari ungkapan “yen meTU kudu meMPENG,” yang berarti “ketika keluar rumah atau mengerjakan sesuatu harus bersungguh-sungguh dan bersemangat.”

Tumpeng biasanya berbentuk kerucut, melambangkan gunung yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Tumpeng sering digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti syukuran, selamatan, perayaan hari kemerdekaan atau perayaan lainnya sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan.

Sejarah Nasi Tumpeng berakar dari tradisi agraris masyarakat Jawa, yang percaya bahwa gunung merupakan tempat tinggal para dewa. Oleh karena itu, bentuk tumpeng yang menyerupai gunung diyakini sebagai simbol penghormatan kepada alam dan Sang Pencipta. Selain itu, tumpeng juga melambangkan keberkahan dan kemakmuran, dengan nasi kuning yang dihidangkan melambangkan kekayaan dan keagungan.

Cara Penyajian dan Makan Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng biasanya disajikan dengan cantik dikelilingi oleh berbagai lauk pauk yang melambangkan harmoni dan keseimbangan hidup. Cara menyajikan dan memakan tumpeng pun memiliki tata cara tersendiri.

Cara yang sering dilakukan dalam menyajikan dan menyantap nasi tumpeng adalah dengan memotong puncaknya terlebih dahulu kemudian memberikannya kepada orang yang paling dihormati atau disayangi. Namun, menurut Murdjati Gardijito, guru besar Teknologi Pangan UGM, cara ini sebenarnya bertentangan dengan filosofi tumpeng.

Bentuk kerucut tumpeng melambangkan Gunung Mahameru di India yang dianggap sebagai tempat suci di mana para dewa bersemayam. Satu butir nasi di bagian puncak tumpeng melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Semakin ke bawah, nasi tumpeng melambangkan umat dengan berbagai tingkat perilaku. Semakin rendah tumpeng, semakin banyak umat dengan perilaku yang kurang baik. Itulah sebabnya puncak tumpeng tidak boleh dipotong, karena dengan memotongnya berarti memutuskan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Tradisi Barat, seperti memotong kue, mungkin memengaruhi kebiasaan memotong puncak nasi tumpeng. Namun, tumpeng seharusnya dimakan dengan cara “dikepung” atau dimakan bersama-sama. Nasi dan lauk diambil dari bagian bawah dan dimakan bersama hingga mencapai puncak, yang kemudian menyatu dengan bagian dasar tumpeng. Cara makan ini melambangkan “manunggaling kawulo lan Gusti,” yang berarti “Sang Pencipta tempat kembali semua makhluk.” Setiap lauk dalam tumpeng juga memiliki makna tersendiri, seperti ayam yang melambangkan kesederhanaan dan ikan teri yang melambangkan kebersamaan. Jadi, saat menikmati nasi tumpeng, mulailah dari bagian bawah dan jangan memotong puncaknya untuk menjaga makna filosofis yang dalam ini.

Nasi Tumpeng bukan hanya sebuah hidangan, tetapi juga sebuah simbol yang kaya akan makna filosofis dan sejarah. Dari bentuknya yang menyerupai gunung hingga cara penyajiannya yang penuh makna, tumpeng adalah cerminan dari kebudayaan Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan sosial. Menikmati nasi tumpeng dengan cara yang benar berarti juga menghormati warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dari berbagai sumber
Penulis: Luma Nahdiya U

Editor : Iwa Ikhwanudin
#nasi tumpeng #tumpeng #filosofi #nasi