RADAR MALIOBORO - Setiap daerah memiliki cerita legenda urban.
Sebenarnya cerita-cerita tersebut sudah cukup familiar di telinga masyarakat Indonesia.
Seperti halnya Kuyang.
Kuyang dikenal dengan hantu Kalimantan.
Sosoknya seram.
Hantu ini memiliki kepala dan tangan. Namun tidak dengan tubuh yang utuh.
Melainkan yang tampak hanya organ dalam tubuh seperti jantung, usus, hati, dan ginjal.
Masyarakat Kalimantan percaya bahwa mereka mewakili ilmu hitam.
Mereka mengincar janin untuk dijadikan santapan.
Nah, Kisah Kuyang ini kemudian diangkat menjadi film horor yang produksi Aenigma Picture dan disutradarai oleh Yongki Ongestu.
Film ini diadaptasi dari buku Kuyang: Sekutu Iblis yang Selalu Mengintai karya Achmad Benbela dari Kalimantan.
Film ini dibintangi oleh Alyssa Abidini sebagai Sriatun dan suami Sriatun, diperankan oleh Bimot Dimas Aditya.
Alur ceritanya, mereka pindah ke desa Kalimantan yang penuh dengan mitos dan kepercayaan tentang ilmu hitam.
Mereka memutuskan pindah karena Bimo bekerja sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kalimantan.
Pasca pidah, mereka selalu diteror dengan kehadiran Kuyang.
Film ini semakin menyita perhatian karena Putri Ayudya berperan sebagai Mina Uwe, seorang tabib yang punya anak ayam. Dia juga memerankan karakter orang yang cerdas dan dapat diandalkan.
Kemudian ia beradu akting dengan Tambi Nyai yang diperankan Elly D Luthan dan Bue Alang (Egy Fedly).
Keduanya juga dianggap sebagai sumber ilmu hitam dan permasalahan desa.
Yongki menghadirkan plot yang sekitar 80 persen mirip dengan adaptasi novelnya.
Banyak mitos dan tradisi yang ditonjolkan dalam film ini.
Tak jauh berbeda dengan film Yongki sebelumnya yakni Tarian Lengger Maut.
Yongki terus konsisten mengusung unsur misteri.
Pertama, tampilan film ini standar saja, seperti film horor lainnya dengan alur cerita ke depan.
Namun, banyak plot yang tidak terduga dan memiliki nuansa berbeda dibandingkan cerita horor lainnya, seperti jumpscare di menit-menit yang tepat.
Soal permasalahannya, film ini tak hanya menampilkan sisi horornya saja.
Kuyang juga memperkenalkan mata pelajaran pendidikan di daerah tertinggal, perbatasan dan terluar atau 3T dan unsur keramat di wilayah Kalimantan.
Menariknya, film ini menampilkan adat istiadat masyarakat, seperti melempar makanan untuk menghormati leluhur kapan pun ingin makan, dan menyiram perahu saat mengusir tamu.
Komedi juga menambah kesan netral.
Film tersebut, melalui karakter Totos Rasit yang berperan sebagai direktur sekolah Kasno yang berhasil tertawa di sela-sela ketegangan film.
Hal lain yang berhasil dimasukkan dalam film ini adalah penggunaan bahasa Kalimantan dengan pengucapan baru namun tanpa menghilangkan aksennya.
Saat kamu mendengar seorang aktor berbicara, kamu mengetahui aksennya, tetapi tidak mengetahui pengucapannya.
Pasalnya, aransemennya dibuat khusus untuk film ini.
Alur lakonnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu penduduk asli, komunitas pendatang, dan penduduk desa yang sudah lama tinggal.
Plot ini memudahkan penonton untuk memahami cara berbicara ini.
Berdasarkan teknik pengambilan gambar, film ini dapat dikatakan merupakan keterampilan yang sulit, karena posisi pengambilan gambar jarang sekali meleset.
Susunan pemain dan aransemen artisnya cukup baik, sehingga hasilnya cukup memuaskan dari sudut pandang penonton.
Salah satunya adalah memotret dari atas atau dari sudut tinggi dengan drone, karena dalam film ini terlihat Kuyang terbang kesana kemari mencari mangsanya.
Yongki mengatakan bahwa produksi film ini sulit karena motion grafis Kuyang tidak sesuai dan cukup memakan waktu.
Kelemahan film ini adalah banyak yang melewatkannya.
Salah satunya adalah ketika rumah terbakar, yang tampaknya tidak beres.
Namun secara keseluruhan, film ini berhasil membuat hati penontonnya berdebar-debar.
Film Kuyang telah tayang di bioskop kesayangan pada 7 Maret 2024.
Gimana sob? Udah nonton belum? Penasaran kan? Yuk segera agendakan!