Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal Ular Cabai, Spesies Endemik Kecil yang Berbahaya dari Wilayah Asia Tenggara

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 1 September 2024 - 10:36 WIB
Salah satu spesies dengan warna yang cantik namun mematikan  (pinterest.com)
Salah satu spesies dengan warna yang cantik namun mematikan (pinterest.com)

RADAR MALIOBORO – Calliophis intestinalis, biasa dikenal sebagai ular cabai atau ular cabe. Spesies ini banyak ditemukan di Asia Tengggara.

Biasanya tersebar di Thailand, Malaysia bagian Semenanjung Malaya, Sabah dan Serawak, serta Indonesia bagian Sumatra, Jawa hingga Kalimantan.

Dalam bahasa Melayu, ular berbisa ini disebut dengan ular tali kasut yang berarti bentuknya menyerupai tali sepatu.

Di Indonesia sendiri, istilah ular cabai memang sedikit aneh saat pertama kali mendengarnya. Karena faktanya bentuk dari ular cabai sekilas menyerupai cabai merah.

Namun, jika diperhatikan secara seksama, bagian kepala dan ekornya saja yang berwarna merah. Di bagian tengah tubuh ular, memiliki warna hitam dengan garis-garis biru.

Bagian bawah tubuh juga berwarna belang hitam putih. Untuk tubuh bagian ekor berwarna merah cerah. Ukuran ular cabai cenderung relatif kecil kisaran 58 cm hingga 71 cm.

Sisik-sisik di bagian punggung memiliki susunan 13 deret. Sedangkan di bagian bawah tubuh ada 197-273 buah. Pada sisik subkaudal ada kisaran 15 hingga 33 buah.

Fakta lain yang harus diketahui adalah ular cabai dapat membunuh ular lainnya. Bahkan, ada yang sudah terbunuh dengan ukuran lebih besar dari ular cabai.

Ular ini juga memiliki kelenjar bisa yang lebih besar dari ular pada umumnya. Racun yang terkadung pada kelenjar ular cabai adalah Calliotoxin. Racun ini termasuk kandungan yang berbahaya.

Racun yang terkandung pada kelenjar ular cabai mampu membahayakan manusia. Kandungan Calliotoxin dapat menganggu kanal sodium. Sehingga saat tergigit, saraf yang ada di dalam tubuh akan terserang.

Kanal sodium sendiri adalah jalur yang mengatur aktif tidaknya saraf di dalam tubuh. Kanal ini termasuk partikel di dalam tubuh yang dapat memberikan pengaruh rasa sakit yang dialami.

Ternyata racun yang tergolong berbahaya ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat penghilang rasa sakit. Karena Calliotoxin termasuk sumber bahan baku dari pembuatan obat tersebut.

Habitat ular cabai banyak ditemukan di hutan primer dan sekunder. Selain itu, ular ini juga ada di kebun-kebun atau pekarangan rumah.

Ular cabai memiliki sifat pemalu. Mereka seringkali bersembunyi di lubang-lubang kayu, tanah hingga tumpukan bebatuan. Saat siang hari datang, mereka tidak agresif dan terbilang jinak. Sedangkan saat malam hari, mereka aktif hidup di atas ataupun dibawah tanah.

Ular cabai merupakan spesies ular kecil yang menarik sekaligus berbisa. Meski kecil, ular ini berbahaya dan membutuhkan kewaspadaan saat ditemukan.

Dengan pemahaman yang baik, kita dapat hidup berdampingan dengan aman dan tentunya lebih berhati-hati saat bertemu ular sejenis ini. ***

Penulis: Razmarita Dyasprinasti
(Berbagai Sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#cabai #Berbisa #kelenjar #tenggara #asia #ular