Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengenal Sindrom Cotard, Gangguan Mental yang Penderitanya Menganggap Diri telah Meninggal

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 23 November 2024 - 04:11 WIB
Ilustrasi Sindrom Cotard (Pixabay)
Ilustrasi Sindrom Cotard (Pixabay)

RADAR MALIOBORO - Sindrom Cotard atau dikenal juga delusi cotard merupakan salah satu gangguan mental yang langka.

Kondisi langka ini ditandai keyakinan oleh penderita bahwa dirinya atau bagian tubuhnya tidak ada atau meninggal.

Gangguan ini terjadi pada pasien yang mengalami depresi berat serta beberapa jenis gangguan psikotik lainnya.

Dikutip dari laman halodoc hingga saat ini para pakar belum mengetahui secara pasti sindrom cotard terjadi.

Menurut beberapa penelitian, orang yang mengalami sindrom Cotard atau sindrom mayat berjalan rata-rata berusia sekitar 50 tahun.

Namun, tidak menutup kemungkinan anak-anak dan remaja pun dapat mengalami sindrom ini, terlebih bagi yang usianya dibawah 25 tahun dapat mengalami sindrom Cotard disertai deprsei atau gangguan bipolar.

Wanita lebih rentan mengalami sindrom ini dibanding pria.

Sindrom ini pun sering dialami oleh beberapa orang yang merasa dirinya tercipta karena lingkungan.

Berikut beberapa kondisi gangguan kesehatan jiea yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap sindrom Cotard, yaitu :

a. Gangguan bipolar
b. Depresi pasca melahirkan
c. Skizofrenia
d. Depresi psikotik
e. Katatonia
f. Gangguan depersonalisasi
g. Gangguan disosiatif

Bukan hanya pertimbangan kondisi mental, sindrom cotard pun juga dapat terjadi pada orang-orang yang mengalami penyakit secara neurologis tertentu, seperti infeksi otak, tumor otak, demensia, epilepsy, migraine, multiple sclerosis, penyakit Parkinson, pukulan, dan cedera otak traumatis.

Mengutip dari laman klikdokter salah satu gejala utama dari sindrom Cotard adalah nihilisme yang berarti kepercayaan bahwa segala sesuatu tidak memiliki arti atau nilai atau tidak ada hal yang nyata.

Baca Juga: Sociolla Gandeng Karyawan Disabilitas untuk Mewujudkan Kesetaraan dan Anti Diskriminasi

Penderita sindrom ini menganggap diri mereka sendiri telah meninggal atau tidak nyata, bahkan di sebagian kasus merasa dirinya tidak pernah ada di dunia.

Selain itu, di beberapa kasus penderita sindrom Cotard ini merasa salah satu anggota tubuh maupun organ tidak ada.

Salah satu hasil penelitian mengatakan bahwa 89% pasien yang mengalami sindrom Cotard secara bersamaan mengalami depresi.

Hal ini dapat dikatakan bahwa depresi berkaitan erat dengan sindrom Cotard.

Selain itu, ada beberapa gejala lain yang menyertai sindrom Cotard, yaitu:

1. Ansietas
2. Halusinasi
3. Rasa bahwa tubuhnya memiliki penyakit tertentu atau reaksi berlebihan terhadap penyakit (Hipokondria)
4. Rasa bersalah dan gelisah
5. Preokupasi untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri

Dikarenakan kondisi ini masih dikategorikan langka, banyak organisasi kesehatan yang belum memasukkan sindrom Cotard sebagai suatu penyakit tersendiri sehingga masih sulit dalam mendiagnosis sindrom ini.

Akan tetapi, dokter masih dapat melakukan wawancara medis secara detail dan melakukan pemeriksaan fiksi untuk menganalisis kemungkinan seseorang mengalami sindrom ini.

Kemudian dalam penanganan atau pengobatan sindrom Cotard ini bervariasi sebab sindrom tersebut biasanya disertai oleh kondisi lain.

Beberapa langkah penanganan atau pengobatan sindrom Cotard adalah:

1. Terapi Perilaku Kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Dalam langkah ini, dokter akan melakukan identifikasi penyebab mengapa pola pikir dan perilaku negatif pada pasien. Setelah itu, pasien akan diajarkan terkait merepons pemicu dengan beraktivitas lebih karah positif dan rasional.

2. Obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan biasanya antipsikotik, antidepresan, dan obat anti kecemasan. Hal ini bertujuan untuk membantu dalam peredaan gejala. Jika kasus sudah termasuk parah, obat yabf diresepkan dokter bisa lebih dari satu.

3. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)

Bila kedua langkah sebelumnya tidak efektif, terapi elektrokonvulsif atau terapi penggunaan listrik dengan arus kecil yang akan dialirkan ke otak mungkin disarankan. Dalam prosesnya, terapi ini akan terjadi perubahan kimia dalam otak sehingga gejala yang muncul dapat teratasi segera. Namun, beberapa kasus, dalam penggunaan terapi ECT, pasien dapat mengalami hilang ingatan.

Itulah sejumlah informasi tentang sindrom Cotard.

Namun hingga saat ini, tindakan pencegahan terhadap sindrom ini belum ada yang efektif secara penuh.

Bila mengalami gejala atau mengetahui orang terdekat memiliki gejala, segera melakukan tindakan dengan cara membuat janji ke rumah sakit untuk segera ditagani agar gejala yang dialami tidak semakin buruk.

(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum; berbagai sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perilaku #sindrom cotard #sindrom