RADAR MALIOBORO - Janda menjadi istilah yang digunakan dengan serampangan akhir-akhir ini. Tidak banyak pembahasan tentang janda atau pembicaraan yang dibuat khusus membahas pentingnya penggunaan istilah ini dengan baik dan tepat. Sangat disayangkan ketika istilah ini diasumsikan negatif oleh masyarakat, padahal mereka yang menyandang status ‘janda’ merupakan sesuatu yang tidak mungkin direncanakan.
Menarik untuk diketahui asal sebuah istilah, kata “janda” sendiri merupakan gabungan dari Indo-Eropa yang berarti “kosong”. Janda merupakan seorang perempuan yang telah kehilangan suami karena kematian atau tidak menikah lagi. Sama halnya dengan janda sebagai status pernikahan, ada status duda untuk laki-laki.
Status janda dan duda di dalam masyarakat, terkhususnya Indonesia tampaknya memiliki makna berbeda secara kultural. Masyarakat lebih bisa menerima atau menganggap lumrah status duda, dan janda dipandang sebelah mata, karena dianggap sebagai aib, serta seakan-akan perempuan kehilangan harga dirinya setelah menjadi janda.
Jika melihat istilah “Janda” di negara tetangga, misalnya India, lebih memprihatinkan. Tidak hanya dianggap sebagai aib, seorang janda kehilangan kehidupan sosial yang manusiawi dan dipandang sebagai orang buangan sosial. Status janda, membuat perempuan India tidak memiliki kebebasan dalam kehidupan mereka, tampak jelas melalui peraturan berpenampilan seorang berstatus janda dilarang mengenakan pakaian atau ornamen berwarna. Mereka juga mendapatkan penolakan sosial, seperti tidak boleh terlibat dalam perayaan, hingga pengurungan.
Masyarakat kita mendefinisikan janda sebagai objek negatif yang dapat mengusik kehidupan rumah tangga, janda dicap suka menggoda suami orang dan berpotensi merusak keharmonisan suami istri, sehingga tidak jarang masyarakat mengucilkan perempuan yang berstatus janda. Adapun status janda membuat perempuan berada di posisi pihak yang bersalah, tidak jarang perceraian dipandang disebabkan oleh sikap perempuan. Istilah janda juga digunakan sebagai bahan guyonan, mengarah pada arti negatif.
Menilai situasi Indonesia, konotasi negatif terhadap status Janda bisa terjadi karena adanya budaya patriarki, rendahnya tingkat pendidikan, faktor usia, serta kepribadian dan perilaku janda.
Pemaknaan janda juga dapat dipengaruhi oleh geografis. Bagi yang di kota besar, janda mungkin hanya mengganggu di pikiran. Orang-orang kota menggunakan istilah lain untuk mengganti kata “janda”, seperti single mom, single parent atau single. Hal ini dilakukan supaya status pernikahan mereka tidak dipandang sebelah mata dan tentunya orang-orang kota dapat lebih terbuka untuk tidak memperbesar sebuah istilah, adapun alternatif istilah tersebut terdengar modern.
Namun berbeda di daerah pedesaan atau kota kecil, kata “janda” dimaknai negatif dan dapat berdampak buruk. Status ini cenderung mempersulit kehidupan mereka, misalnya seorang janda akan kesusahan secara ekonomi karena dikucilkan warga sekitar.
(Marina Juliana; berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin