RADAR MALIOBORO - Di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa, terbentanglah kisah mistis yang tak lekang oleh waktu tentang sosok penguasa lautan, Kanjeng Ratu Kidul atau yang lebih dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.
Kepercayaan turun-temurun ini memunculkan salah satu tradisi paling sakral dan ditunggu-tunggu, yaitu Ritual Larung Sesaji. Lebih dari sekedar upacara, ritual ini adalah jalinan kuat antara rasa syukur manusia terhadap alam, penghormatan kepada kekuatan spiritual, dan upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Secara bahasa, Larung berarti menghanyutkan atau melepaskan, sementara Sesaji adalah adalah persembahan. Dengan demikian, Larung Sesaji adalah ritual menghanyutkan persembahan ke tengah lautan.
Tradisi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki hasil laut yang melimpah dan memohon keselamatan serta kemakmuran dalam menjalani hidup. Bagi sebagian masyarakat Jawa, ritual ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada Nyi Roro Kidul penjaga laut selatan.
Pelaksanaan Larung Sesaji seringkali dikaitkan dengan momen-momen istimewa dalam kalender Jawa, seperti, malam 1 Suro (awal Tahun Baru Islam/Jawa), yang dianggap sebagai malam yang penuh berkah dan kesakralan.
Ritual Larung Sesaji bukanlah acara yang digelar sembarangan. Setiap tahapannya mengandung makna filosofis yang mendalam:
1. Persiapan Sesaji
Masyarakat setempat akan menyiapkan berbagai jenis sesaji, yang umumnya meliputi:
Nasi Tumpeng, buah-buahan, sayuran, hasil panen lainnya, hewan ternak, dan juga bunga tujuh rupa dan aneka makanan khas lainnya.
2. Doa dan Upacara Adat
Sebelum dilarung, sesaji akan didoakan dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh tokoh adat, juru kunci, atau kyai setempat. Dalam rangkaian ini, dipanjatkan doa-doa yang berisi permohonan keselamatan, kemakmuran, dan perlindungan dari segala bala bencana.
3. Pelarungan Sesaji
Puncak dari ritual ini adalah saat sesaji dibawa ke tengah laut, biasanya menggunakan perahu kecil, untuk kemudian dilepaskan atau dilarung.
Terlepas dari dimensi mistisnya, Larung Sesaji adalah sebuah pelestarian budaya yang berharga. Ia mengajarkan masyarakat untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam dan kekuatan yang lebih tinggi.
Di tengah gempuran modernisasi, Larung Sesaji terus menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk menyaksikan langsung kekayaan spiritual dan adat Indonesia. Ini membuktikan bahwa mitos dan ritual di pesisir selatan Jawa tetap hidup, membentuk identitas budaya yang unik dan mempesona.
(Dela Apriyanti)
Editor : Iwa Ikhwanudin