RADAR MALIOBORO - Bundaran Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai titik penting kampus, tetapi juga memiliki cerita mistis yang sudah populer sebagai urban legend. Bundaran ini terletak di sekitar Fakultas Teknik UGM, dekat Pascasarjana dan berbagai gedung kampus lainnya di kawasan Bulaksumur, Sleman.
Salah satu mitos yang paling terkenal adalah larangan menyanyikan lagu "Gugur Bunga" di bundaran ini pada malam hari. Lagu ini merupakan hymne penghormatan bagi para pahlawan yang telah gugur. Cerita berawal pada era 1990-an ketika dua mahasiswa bernama Joko dan Dias mencoba membuktikan mitos tersebut.
Dikisahkan bahwa jika seseorang menyanyikan lagu ini di bundaran pada tengah malam, maka sosok penunggu berupa arwah pahlawan prajurit kuno akan muncul. Kehadiran sosok ini biasanya ditandai dengan aroma harum yang tercium di udara. Jika bau harum mulai memudar, itu pertanda sosok tersebut sudah mendekat dan siap menampakkan diri.
Bundaran ini dikelilingi oleh pepohonan besar termasuk pohon beringin yang rimbun, sehingga menciptakan suasana kelam dan menakutkan pada malam hari. Banyak mahasiswa mengaku merasakan hawa dingin yang tidak biasa, melihat bayangan putih yang melintas, hingga motor yang tiba-tiba mati saat melintas di dekat bundaran.
Lokasi bundaran juga dipercaya sebagai medan arena pertempuran kuno, dimana banyak prajurit Mataram gugur dan arwah mereka masih menghuni kawasan tersebut. Energi mistis yang tersisa itulah yang kemudian membuat bundaran ini dikenal angker dan berpenunggu.
Cerita ini telah menjadi bagian dari folklore kampus yang dibagikan dari satu generasi mahasiswa ke generasi berikutnya. Meski begitu, mitos ini juga menjadi daya tarik tersendiri, menambah aura misteri bagi kampus UGM yang notabene kampus tertua dan bergengsi di Indonesia. Bagi mahasiswa maupun warga yang melewati bundaran ketika malam, keberadaan mitos ini membuat pengalaman berjalan di sana menjadi penuh ketegangan dan penasaran.
(Adessia Miftahullatifah)
Editor : Iwa Ikhwanudin