RADAR MALIOBORO - Fenomena tutupnya gerai mixue di indonesia menjadi pelajaran penting tentang risiko eekspansi yang dilakukan tanpa adanya strategi yang matang. Brand yang sempat menjadi standar baru es krim murah meriah kini menghadapi realitas pahit di indonesia.
Mixue pernah menjadi primadona di indonesia. Logo khas dengan maskot salju putihnya hampir selalu ada di setiap sudut kota. Menghiasi ruko-ruko yang sebelumnya kosong, brand ikonik yang mudah diingat ini menjadi pilihan favorit anak-anak hingga kalangan anak muda.
Baca Juga: Ramadan Tinggal Hitungan minggu, Sudahkah Anda Melakukan 5 Hal Ini!
Namun, kini narasi yang kian berubah. Antrean panjang yang dulu membanjiri setiap gerai kini berganti dengan etalase sepi dan beberapa gerai yang tutup permanen di beberapa kota. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?
Masalah utama muncul ketika outlet tumbuh lebih cepat dari pasarnya. Sistem franchise Mixue memungkinkan pembukaan gerai dalam jarak yang sangat dekat, bahkan di jalan yang sama. Di satu area, bisa ditemukan tiga hingga empat gerai Mixue tanpa mempertimbangkan potensi lokasi dan daya beli konsumen yang ada di sekitarnya.
Kondisi ini menciptakan efek di mana gerai-gerai yang berdekatan justru saling berebut konsumen yang sama. Produk serupa dijual di lokasi berdekatan, membuat konsumen tidak bertambah hanya saja mereka berpindah-pindah antar outlet Mixue. Alih-alih meningkat, penjualan justru terpecah ke banyak gerai.
Baca Juga: Fun Fact Ubi Cilembu : Nutrisi yang Lengkap di balik satu Gigitan
Kompetitor Bermunculan dengan Konsep Serupa
Ketika Mixue fokus pada ekspansi besar-besaran hingga lebih dari 2.000 gerai, kompetitor lain mulai bermunculan dengan strategi serupa. Momoyo, Mr. Snow, Cooler City, Es Teh Indonesia, dan berbagai brand sejenis menawarkan es krim, minuman manis, dan harga yang sama kompetitifnya.
Salah satu risiko terbesar berbisnis F&B adalah produk yang mudah ditiru. Dalam industri es krim dan minuman murah, diferensiasi produk sangat tipis. Bagi konsumen, pilihan kini melimpah dan keputusan pembelian sering kali berdasarkan kedekatan lokasi semata, bukan lagi loyalitas terhadap brand tertentu.
Baca Juga: Bosen Minum Es Terus? 5 Cara Cerdas Tetap Terhidrasi yang Jarang Orang Tahu!
Mitra Franchise yang Tidak Siap
Banyak mitra Mixue masuk karena hanya mengikuti tren, bukan karena kesiapan mengelola bisnis. Ekspektasi yang membawa mereka untuk mengandalkan nama besar brand ternyata jauh dari kenyataan.
Bisnis F&B menuntut kontrol operasional yang ketat. Pengelolaan SDM, konsistensi kualitas layanan, dan efisiensi biaya menjadi faktor penentu. Ketika aspek-aspek ini tidak dikelola dengan baik, performa outlet perlahan melemah.
Dalam waktu singkat, Mixue memang menjadi pilihan yang mungkin ‘aman’ bagi banyak investor dan pebisnis pemula. Namun realitas di lapangan membuktikan bahwa nama besar saja tidak cukup tanpa manajemen yang baik.
Viral Bukan Jaminan Bertahan
Fenomena Mixue menjadi pengingat penting bagi pelaku bisnis yang sedang viral dan populer , bukan jaminan keberlanjutan. Pertanyaannya bukan lagi ‘bisnis apa yang sedang viral’, melainkan ‘siapa yang benar-benar siap bertahan ketika viral atau tren sudah habis?’
(Tiya Ermiyati)
Editor : Iwa Ikhwanudin