Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Merawat Papua, Setia Merawat Anak-anak Berharga dari Pulau Emas di Tengah Keterbatasan

Bahana. • Rabu, 14 Januari 2026 - 13:38 WIB

Pison Kogoya, salah satu anak asuh dari Merawat Papua (Instagram/@merawatpapua)
Pison Kogoya, salah satu anak asuh dari Merawat Papua (Instagram/@merawatpapua)
RADAR JOGJA - Merawat Papua, hanya cerita sederhana tentang anak-anak di sebuah rumah belajar kecil di pedalaman Papua.

Begitulah pemilik akun Instagram @merawatpapua menyantumkan kalimat menyentuh hati tersebut di keterangan biografi akun Instagram-nya.

Di 2016, tepatnya pada tanggal 14 April pemilik akun @merawatpapua membagikan postingan untuk pertama kalinya pada akun tersebut.

Saat itu, pemilik akun sedang mengumpulkan donasi untuk membelikan seragam sekolah bagi anak-anak Papua, tepatnya di Asmat dan Lanny Jaya.

Pemilik akun mengatakan bahwa anak-anak di sana terpaksa memakai baju robek, bahkan baju milik orang tuanya agar bisa pergi bersekolah.

Anak-anak tersebut bersekolah di sebuah rumah belajar sederhana yang dibangun hasil dari kegiatan sukarelawan.

Program lainnya yang diadakan, yaitu #BookforPapua. Program tersebut menggalang donasi buku yang kemudian disumbangkan ke Rumah Baca Lanny Jaya, tempat yang didirikan sebagai fasilitas membaca bagi anak-anak di sana.

Selain di Lanny Jaya, buku-buku tersebut juga dikirimkan ke rumah belajar di Nabire, Bomela, Wamena, Agats, Indawa, dan lainnya.

Meskipun sebagian rumah belajar tersebut telah tutup, tetapi rumah belajar lainnya mencoba untuk berdiri sendiri dan bertahan.

Program-program lainnya juga membantu anak-anak asuh Merawat Papua untuk bisa menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, salah satunya adalah program Teman Nyala Mimpi.

Pemilik akun bersama dengan kontribusi para donatur dan relawan lainnya juga mendirikan Sekolah Baca Tulis di Lanny Jaya pada tahun 2021.

Sekolah tersebut merupakan sebuah sekolah alternatif untuk membantu pemberantasan buta huruf di pedalaman Papua.

Pemilik akun juga memperkenalkan Toko Mace, sebuah toko oleh-oleh khas Papua, salah satunya Noken.

Noken merupakan tas anyaman yang terbuat dari serat kulit kayu atau tumbuhan alami. Noken biasanya dipakai di kepala untuk menampung hasil panen di kebun.

Toko Mace menjual Noken buatan para wanita di pedalaman Papua yang disebut “mama-mama”. Hasil dari penjualan di Toko Mace digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak Papua yang ada di berbagai program Merawat Papua.

Selain itu, Merawat Papua juga menjalankan program Gizi untuk Papua yang dilanjutkan dengan program bernama Program Literasi Gizi.

Program tersebut dilakukan untuk memberikan modal kepada masyarakat pedalaman Papua agar mereka bisa mandiri dan memiliki sumber pangan bergizi untuk anak-anak mereka di rumah.

Program ini dilakukan dengan berkebun di sebuah kebun dengan sebutan Kita Pu Kebun, beternak, dan mendampingi warga dalam merawat serta mengolah hasil kebun atau ternaknya.

Pada tahun 2020, Merawat Papua memiliki 91 anak asuh yang terdiri dari 57 anak di kelompok belajar dan 34 anak berada di sekolah formal.

Meskipun demikian, anak-anak asuh tersebut berkurang menjadi 26 orang anak dan di tahun 2023, tepatnya pada tanggal 1 Juli, jumlah anak asuh yang dirawat menjadi hanya 12 orang. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan.

Pemilik akun mengatakan dalam unggahannya bahwa alasan utama dari pengurangan anak asuh adalah keterbatasan biaya.

Pemilik akun kerap membagikan kabar mengenai pendidikan anak-anak asuhnya. Beberapa dari anak-anak tersebut berhasil meluluskan pendidikan tinggi, salah satunya bernama Paskalis yang lulus pada Program Studi (Prodi) D-3 Keperawatan di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kini, Paskalis merupakan seorang perawat yang kerap membagikan kesehariannya dalam mengobati orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Ia juga berpartisipasi dalam membantu salah satu program Merawat Papua lainnya, yaitu Perahu Medis. Program tersebut dibentuk sebagai aksi kecil untuk membantu pengobatan masyarakat di pedalaman Papua.

Anak asuh lainnya, yaitu Pison Kogoya, anak asuh bungsu yang sempat viral pada beberapa waktu lalu karena sikap dermawannya.

Dalam video yang beredar, Pison tampak membongkar celengan miliknya. Awalnya, uang dalam celengan tersebut akan digunakan untuk liburan Natal di Jayapura. Namun, Pison lebih memilih untuk menyumbangkan sebagian besar uang tersebut kepada korban banjir di Sumatera.

Publik tersentuh dengan perilaku dermawan Pison tersebut. beberapa di antaranya bahkan berniat untuk mengirimkan hadiah kepada dirinya.

Namun, hal tersebut ditolak oleh pemilik akun. Pemilik akun menjelaskan bahwa dirinya menolak bukan karena tidak menghargai dan tanpa sebab, melainkan memberikan pelajaran kepada anaknya itu supaya belajar memberi tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.

Bukan hanya cerita soal bagaimana Merawat Papua membantu penduduk Papua di pedalaman sana.

Merawat Papua juga sering mengeluhkan betapa jauhnya uluran tangan pemerintah untuk menjangkau pendidikan di Papua. Seringkali, pemilik akun mencurahkan isi hatinya mengenai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan penduduk Papua.

Penebangan hutan adat, pertambangan, infrastruktur yang tidak merata, serta pelayanan kesehatan dan pendidikan yang sulit diakses menjadi kekecewaan tersendiri bagi Merawat Papua. Akun tersebut aktif dalam menyuarakan keadilan untuk Papua dan banyak cerita lainnya yang senantiasa dibagikan. (Salwa Hunafa)

Editor : Bahana.
#papua