Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Inilah mitos-Mitos Tentang Kematian yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Magang Radar Malioboro • Kamis, 29 Januari 2026 - 15:03 WIB
(foto/ANTARA)
(foto/ANTARA)

RADAR MALIOBORO - Kematian selalu menjadi topik yang dekat dengan mitos. Di banyak lingkungan masyarakat lokal, tanda-tanda seseorang akan meninggal sering dikaitkan dengan perubahan fisik, perilaku, hingga pengalaman tertentu yang dianggap sebagai firasat.

Sebagian mitos ini memang punya penjelasan medis, sementara lainnya murni kepercayaan turun-temurun.

Berikut mitos-mitos tentang kematian yang masih banyak dipercaya hingga sekarang.

1. Meninggal dalam Kondisi Kebiasaan yang Sering Dilakukan

Ada kepercayaan bahwa seseorang akan meninggal dalam kondisi aktivitas yang paling sering ia lakukan semasa hidup. Misalnya, orang yang hobi jalan-jalan akan meninggal pas dia jalan-jalan, atau orang yang sibuk bekerja akan meninggal di tempat kerja.
Mitos ini tidak memiliki dasar medis khusus dan lebih bersifat narasi simbolik. Ketika seseorang meninggal dalam kondisi tertentu, aktivitas tersebut kemudian dianggap sebagai penanda, padahal kematian bisa terjadi kapan saja, terlepas dari kebiasaan sehari-hari.


2. Telinga Layu atau Berubah Warna

Di beberapa daerah, telinga yang tampak layu, pucat, atau menghitam sering dipercaya sebagai tanda seseorang akan segera meninggal.
Secara medis, perubahan pada telinga bisa terjadi akibat penurunan sirkulasi darah, dehidrasi, atau kondisi tubuh yang melemah, terutama pada lansia atau pasien sakit berat. Namun, kondisi ini tidak bisa dijadikan patokan pasti kematian, karena banyak orang mengalaminya tanpa berada di ambang ajal.

3. Mendadak Jadi Lebih Penyayang dan Dermawan

Perubahan sikap yang drastis, seperti tiba-tiba menjadi lebih lembut, penyayang, atau mudah berbagi sering dianggap sebagai tanda seseorang sedang berpamitan.
Pada beberapa orang, perubahan sikap bisa dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti refleksi hidup, kesadaran usia, atau kondisi emosional tertentu. Tidak semua perubahan perilaku berarti seseorang akan meninggal.


4. Tatapan Mata Kosong dan Sering Melamun

Sorot mata yang dianggap redup atau sering melamun kerap ditafsirkan sebagai tanda jiwa mulai menjauh dari tubuh.
Dalam dunia medis, kondisi ini bisa berkaitan dengan kelelahan, penurunan kesadaran, atau gangguan metabolik, terutama pada orang sakit. Meski sering muncul pada pasien dengan kondisi serius, perubahan tatapan mata tetap bukan penanda pasti kematian, melainkan respons tubuh dan otak terhadap kondisi tertentu.

5. Bermimpi Bertemu Orang yang Sudah Meninggal

Mimpi bertemu orang yang telah meninggal, terutama orang tua atau kerabat dekat, sering dipercaya sebagai firasat akan menyusul mereka.
Hingga kini, tidak ada bukti medis yang menyatakan mimpi semacam ini sebagai tanda kematian. Mimpi lebih dipengaruhi oleh memori, emosi, dan kondisi psikologis seseorang. Meski demikian, karena bersifat personal dan emosional, mitos ini tetap kuat dipercaya.

6. Tiba-Tiba Menyebut Tanggal atau Waktu Tertentu

Ucapan spontan tentang tanggal atau waktu tertentu sebelum meninggal sering dianggap sebagai isyarat terakhir.
Fenomena ini tidak memiliki dasar medis dan umumnya baru dianggap bermakna setelah kematian benar-benar terjadi. Dalam banyak kasus, ucapan tersebut merupakan kebetulan yang kemudian dicocokkan dengan peristiwa kematian seseorang.


7. Firasat Kematian yang Dirasakan Sendiri

Sebagian orang mengaku memiliki firasat kuat bahwa hidupnya akan segera berakhir. Firasat ini sering muncul tanpa gejala fisik yang jelas.
Dalam konteks medis, firasat semacam ini tidak bisa dijadikan indikator klinis, meski dalam praktik perawatan penyakit kronis, tenaga kesehatan tetap memperhatikan pernyataan pasien karena bisa berkaitan dengan kondisi psikologis atau persepsi tubuh terhadap penyakit berat.

Sebenarnya, masih banyak mitos-mitos lain yang dipercaya masyarakat. Sebagian mitos kematian memang cocok dengan peristiwa nyata, namun kematian tetaplah tidak bisa diprediksi hanya dari tanda-tanda tertentu. Mitos-mitos tersebut biarlah tetap ada, tapi harus disikapi dengan wajar. Menjadikan mitos sebagai kepercayaan justru berpotensi menimbulkan ketakutan yang berlebihan saat menjalani hidup.

(Affrendi Kurniawan)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Tentang #mitos #kematian