(El Niño Mengintai, Produksi Pangan Indonesia Aman? Ini Langkah Kementan Hadapi Kekeringan)
YOGYAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) RI terus bergerak cepat menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Niño yang diprediksi BMKG muncul pada semester kedua 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin persiapan lima strategi utama untuk menjaga ketahanan pangan nasional tetap tangguh meski musim kemarau diprediksi lebih kering dan panjang dari biasanya.
Menurut pernyataan resmi Kementan yang dirilis Rabu (15/4/2026), langkah antisipasi dimulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan secara akurat.
Pemetaan ini diperkuat dengan sistem peringatan dini agar petani dan pemerintah daerah bisa melakukan antisipasi lebih cepat.
Selanjutnya, Kementan fokus pada optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, serta penguatan program irigasi perpompaan (pompanisasi) dan sistem perpipaan.
Strategi ini diharapkan mampu menjaga pasokan air di lahan pertanian, terutama di wilayah sentra produksi padi seperti Jawa.
Percepatan tanam juga menjadi prioritas di daerah yang masih memiliki potensi air tersisa.
Percepatan ini dilakukan khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, didukung penggunaan varietas unggul tahan kekeringan serta berumur genjah.
Kementan juga terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan, termasuk lahan rawa dan cetak sawah baru, agar indeks pertanaman bisa meningkat.
Semua upaya ini diperkuat melalui koordinasi solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, serta seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian.
“Dengan kerja cepat dan kolaborasi yang kuat, sektor pertanian Indonesia diyakini tetap tangguh demi menjaga ketahanan pangan nasional,” demikian pernyataan Kementan dalam utas resmi di media sosial X.
Prediksi BMKG menyebut peluang El Niño lemah hingga moderat mencapai 50-80 persen, dengan kemungkinan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.
Fenomena ini berpotensi menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa dan Nusa Tenggara.
Namun, Mentan Amran Sulaiman optimistis Indonesia mampu menghadapi ancaman ini.
Stok beras nasional saat ini berada di level tinggi, ditargetkan bisa mencapai cadangan aman hingga 5 juta ton.
Program pompanisasi yang terus ditingkatkan diharapkan mampu meminimalisir dampak kekeringan terhadap produksi pangan.
Petani di DIY dan Jawa Tengah diimbau untuk segera memanfaatkan sisa potensi air dengan mempercepat masa tanam serta menjaga sistem irigasi di tingkat desa.
Pemerintah daerah juga didorong untuk berkoordinasi intensif dengan Kementan guna memastikan distribusi bantuan pompa air dan benih tahan kekeringan tepat sasaran.
Dengan langkah antisipasi yang terstruktur ini, pemerintah berharap produksi pangan nasional, khususnya beras dan komoditas utama, tetap stabil sepanjang 2026.
Ketahanan pangan Indonesia diharapkan tidak terganggu meski El Niño mengintai. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin