Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Harganas Ke-33 Mengusung Tema “Ayah Wajib Hadir” untuk Cegah Budaya Fatherless 

Bunga Faizati Hudianna • Senin, 29 Juni 2026 | 11:56 WIB
Ilustrasi keluarga bahagia. (Foto: Magnific)
Ilustrasi keluarga bahagia. (Foto: Magnific)

RADAR MALIOBORO - Setiap tanggal 29 Juni, masyarakat Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Pada tahun 2026 ini, peringatan Harganas yang jatuh pada Senin (29/6/2026) telah memasuki usianya yang ke-33 tahun. 

Momen ini menjadi refleksi penting mengenai peran keluarga sebagai fondasi dasar dalam membentuk karakter bangsa, menciptakan ketahanan sosial, serta mendorong kemajuan Indonesia.

Peringatan Harganas pertama kali digagas oleh Prof. Dr. Haryono Suyono saat menjabat sebagai Ketua Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di era Presiden Soeharto. Harganas pertama kali diperingati secara resmi di Lampung pada tahun 1993, dan kemudian dilegalkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014.

Pemilihan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional merujuk pada dua peristiwa bersejarah, yakni sebagai berikut.

Baca Juga: Ketegangan Baru di Selat Hormuz: Kapal Singapura Diserang, PBB Tunda Evakuasi Ribuan Pelaut

1.    Peristiwa Yogya Kembali (29 Juni 1949): Momen ditariknya pasukan Belanda terakhir dari Yogyakarta melalui Magelang. Peristiwa ini menandai berakhirnya perjuangan gerilya para pejuang Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian kembali berkumpul dan bersatu lagi dengan keluarga mereka.

2.    Gerakan KB Nasional (29 Juni 1970): Menjadi puncak kristalisasi semangat dan tonggak dimulainya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional.

Berdasarkan unggahan resmi akun Instagram Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Harganas ke-33 tahun 2026 mengusung tema utama “Ayah Wajib Hadir”.

Tema ini diangkat karena Indonesia saat ini sedang menghadapi tiga tantangan yang saling berkaitan dan berakar dari pengasuhan di dalam rumah, yaitu:

•    Budaya Fatherless: Kondisi di mana ayah ada secara fisik di rumah, namun sering absen secara emosional dan psikologis dalam pengasuhan harian anak.
•    Ancaman Stunting: Kualitas pengasuhan di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang sangat menentukan tumbuh kembang generasi penerus.
•    Puncak Demografi: Peluang langka bagi kemajuan bangsa yang bisa menjadi berkah atau justru bencana, tergantung dari kualitas SDM yang disiapkan dari sekarang.

Baca Juga: Atasi Masalah Pacing, Netflix dan WIT Studio Remake Anime 'THE ONE PIECE' yang Lebih Setia pada Manga

Kehadiran sosok ayah secara utuh sangat berdampak langsung pada perkembangan kognitif anak, kestabilan emosi, kepercayaan diri anak, serta mampu menurunkan tingkat stres ibu pascamelahirkan demi mendukung keberhasilan ASI eksklusif dan pencegahan stunting.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, dalam peringatan di Yogyakarta pada hari Senin, meminta seluruh keluarga di Indonesia untuk berefleksi dan mengintrospeksi diri. Ia mengimbau agar rumah dijadikan ruang yang aman bagi anak untuk saling bercerita di tengah cepatnya pergerakan panggung peradaban modern dan disrupsi teknologi digital yang masuk tanpa permisi.

“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam keadaan fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik saja tanpa psikologis. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Peluk anak-anakmu dan ajak mereka berdialog, batasi penggunaannya pada hal-hal yang produktif,” tegas Mendukbangga Wihaji.

Melalui momentum Harganas ke-33 ini, seluruh elemen masyarakat diajak untuk hadir sepenuh hati bagi keluarga. Sebab, dari keluarga yang kuat dan berkualitas, akan lahir generasi penerus yang cerdas, sehat, berdaya saing, serta mampu mewujudkan Indonesia yang hebat. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#harganas #hari keluarga nasional #ayah wajib hadir