Batuk Halus Gunung Merapi, Dua Kali Guguran Lava Meluncur hingga 1,8 Kilometer di Sektor Barat Daya

Editor Content • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 07:22 WIB
Gunung Merapi mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG). Terekam dari CCTV Jurangjero. (Badan Geologi)
Gunung Merapi mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG). Terekam dari CCTV Jurangjero. (Badan Geologi)

 SLEMAN - Udara dingin yang merayap di lereng Gunung Merapi tak sepenuhnya menidurkan raksasa vulkanik di perbatasan DIY dan Jawa Tengah ini. Sepanjang Kamis (30/7/2026), aktivitas di perut Merapi tercatat masih hangat. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya dua kali guguran lava pijar yang meluncur deras ke arah barat daya, mengular di sepanjang aliran Kali Bebeng dan Kali Krasak hingga jarak maksimum 1.800 meter.

Meski demikian, wajah Merapi sepanjang hari kemarin terbilang cukup bersahabat secara visual. Di tengah cuaca yang berganti dari cerah hingga mendung, puncak setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu kerap menampakkan diri dengan jelas. Asap kawah berwarna putih tipis hingga tebal membumbung perlahan setinggi 15 hingga 20 meter, terbawa hembusan angin sepoi-sepoi yang berhembus ke arah utara, timur, dan barat. Suhu udara di sekitar kawasan lereng pun terasa cukup sejuk, berkisar antara 17 hingga 25,3 derajat Celsius.

Namun, di balik visualnya yang tampak tenang dan dibalut kabut tipis, denyut kegempaan di dalam tubuh Merapi masih menunjukkan geliat yang signifikan. Petugas penyusun laporan aktivitas gunungapi, Ngadiyo, mencatat adanya suplai magma yang masih berlangsung secara konsisten dari kedalaman.

Baca Juga: Kecewa Ayam Mati karena Listrik Padam, Bangkai Ditumpuk di Depan Kantor PLN Palangkaraya

"Data pemantauan mengindikasikan bahwa suplai magma belum berhenti. Kondisi ini terus memicu potensi terjadinya awan panas guguran di area-area yang rentan," tulis BPPTKG dalam laporan resmi MAGMA-VAR yang dirilis Badan Geologi, KESDM.

Geliat bawah permukaan ini terekam jelas oleh instrumen seismik. Sepanjang 24 jam pengamatan, tercatat terjadi 76 kali gempa guguran dengan durasi hingga 183 detik. Selain itu, dinamika fluida dan tekanan magma di kedalaman dangkal memicu 75 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 18 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo yang cukup tinggi hingga 80 milimeter.

Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih bertahan kukuh pada Level III (Siaga). Status yang terbilang awet ini menjadi penanda bagi seluruh warga di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk tidak lengah sedikit pun.

Baca Juga: Pemotor Tewas Tabrak Pajero di Siyono Gunungkidul, Diduga Terlalu ke Tengah, Hantam Mobil, Meninggal Dunia

BPPTKG mewanti-wanti masyarakat agar sepenuhnya mengosongkan zona bahaya. Ancaman utama berupa awan panas dan guguran lava mengintai sektor selatan hingga barat daya—khususnya di sepanjang aliran Sungai Boyong (hingga 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga 7 km). Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mengancam kawasan Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km). Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng juga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir lahar hujan saat curah hujan meningkat, serta menyiapkan antisipasi terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Merapi Siaga guguran lava BPPTKG Yogyakarta gunung merapi erupsi merapi