Bumi Makin Haus, Cadangan Air Dunia Menurun, Apa Dampaknya?

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:12 WIB
Ilustrasi kondisi sumber daya air dunia yang menghadapi perubahan akibat kondisi hidrologi dan penyusutan gletser.
Ilustrasi kondisi sumber daya air dunia yang menghadapi perubahan akibat kondisi hidrologi dan penyusutan gletser.

RADAR MALIOBORO – Air mungkin terlihat seperti sesuatu yang selalu tersedia. Namun, kondisi sumber daya air dunia ternyata sedang menghadapi tekanan. Persediaan air yang tersimpan di daratan terus berubah dan di sejumlah wilayah justru mengalami penurunan.

Hal tersebut terungkap dalam laporan State of Global Water Resources 2025 yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 17 September 2026. Laporan tersebut menggambarkan kondisi sumber daya air dunia, termasuk perubahan pada sungai, air tanah, salju, hingga gletser.

WMO mencatat 2025 menjadi salah satu tahun dengan kondisi aliran sungai paling kering dalam 35 tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pola ketersediaan air semakin tidak menentu.

Air yang tersimpan di bumi tidak hanya berasal dari sungai atau waduk. Air tanah, salju, gletser, hingga kelembapan tanah juga menjadi bagian dari sistem penyimpanan air tawar.

Baca Juga: Diduga Blokir Iklan Pesaing, KPPU Gelar Sidang Perdana Kasus Platform Otomotif

Masalahnya, kondisi setiap wilayah tidak selalu sama. Ketika satu daerah mengalami kekurangan air, wilayah lain justru dapat menghadapi curah hujan tinggi hingga banjir.

Pada 2025, sekitar 36 persen wilayah daerah aliran sungai di dunia mengalami debit air di bawah kondisi normal. WMO juga mencatat selama tujuh tahun berturut-turut, daerah aliran sungai dengan kondisi normal hanya menjadi bagian kecil dibandingkan wilayah yang mengalami kondisi tidak biasa.

Perubahan tersebut membuat pengelolaan air semakin sulit. Masyarakat tidak hanya harus menghadapi kekeringan, tetapi juga risiko banjir yang dapat muncul dalam waktu singkat.

Kondisi gletser juga menjadi perhatian. WMO mencatat kehilangan massa gletser terjadi di seluruh wilayah utama gletser dunia selama empat tahun berturut-turut hingga 2025.

Gletser memiliki peran penting sebagai salah satu penyimpan air tawar. Air dari pencairan salju dan gletser menjadi sumber bagi sungai di sejumlah wilayah, terutama ketika memasuki musim kering.

Baca Juga: Rahasia di Balik Wajah Baby Face Maudy Effrosina Meski Menginjak Kepala Tiga

Dalam jangka pendek, pencairan yang berlangsung cepat dapat meningkatkan jumlah air yang mengalir dan menambah risiko banjir. Namun, jika massa gletser terus berkurang, cadangan air yang bisa diandalkan untuk jangka panjang juga ikut terancam.

Kondisi air tanah pun perlu diperhatikan. Penggunaan air tanah yang lebih cepat dibandingkan proses pengisiannya kembali dapat membuat cadangan semakin sulit dipulihkan.

Menurunnya ketersediaan air bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya bisa masuk ke berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling bergantung pada ketersediaan air. Ketika pasokan air berkurang, petani dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan irigasi. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut bisa berpengaruh terhadap produksi pangan.

Kebutuhan rumah tangga juga ikut terdampak. Wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan berpotensi menghadapi persoalan air bersih, terutama ketika sumber air utama mengalami penurunan.

Baca Juga: Kasus Sarah Khalifa Masuk Babak Baru, Vonis Mati Kini Dihadapkan pada Proses Banding

Dari sisi ekonomi, air juga dibutuhkan berbagai sektor, mulai dari industri hingga pembangkit listrik. Gangguan ketersediaan air dapat ikut memengaruhi aktivitas produksi.

Sebaliknya, ketika air datang dalam jumlah berlebihan, banjir dapat menimbulkan kerusakan pada rumah, jalan, lahan pertanian, dan fasilitas umum.

WMO mencatat Asia dan Afrika termasuk kawasan yang banyak menghadapi bencana terkait air. Dalam lima tahun terakhir, kedua kawasan tersebut menyumbang sedikitnya separuh dari bencana terkait air yang tercatat serta lebih dari 80 persen korban jiwa akibat bencana tersebut.

Perubahan kondisi air dunia membuat pengelolaan sumber daya air tidak bisa hanya mengandalkan penanganan ketika bencana terjadi. Sistem peringatan dini, pemantauan kondisi air, serta pertukaran data menjadi bagian penting untuk menghadapi perubahan tersebut.

Di tingkat masyarakat, langkah sederhana juga bisa dilakukan, seperti menggunakan air secukupnya, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta menjaga lingkungan dan daerah resapan.

Baca Juga: Tak Perlu ke Kafe Kekinian, Kuliner Rumahan di Lereng Merapi Ini Sajikan Rasa Jawa yang Ngangenin

Sebab, ketika cadangan air semakin sulit diprediksi, menjaga air bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Ketersediaannya berkaitan langsung dengan pangan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

(Maria Margaretha Nirong Gedo) 

Sumber: World Meteorological Organization (WMO), State of Global Water Resources 2025; ANTARA News, 17–18 September 2026.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
kebutuhan kekeringan kering iklim air