RADAR MALIOBORO - Nama Sienna Rose menjadi perbincangan luas setelah sejumlah lagunya menembus daftar lagu viral di berbagai platform streaming.
Beberapa judul seperti Into the Blue, Breathe Again, Safe With You, dan Where Your Warmth Begins diputar jutaan kali dan masuk dalam daftar Viral Top 50 Spotify Global.
Lagu-lagu tersebut terdengar halus, bernuansa soul dan jazz, serta mudah diterima oleh pendengar dari berbagai kalangan.
Profil Sienna Rose di Spotify juga tampak meyakinkan.
Akunnya telah mengantongi tanda verifikasi centang biru dan memperkenalkan dirinya sebagai solois dengan aliran neo-soul.
Perjalanan musiknya disebut dimulai melalui single debut berjudul Light on My Skin yang dirilis pada 9 Februari 2024.
Popularitas Sienna Rose tercermin dari jumlah pendengar bulanannya di Spotify yang mencapai sekitar 3,5 juta.
Angka tersebut tergolong sangat tinggi bagi seorang artis yang relatif baru muncul dan tidak memiliki rekam jejak panjang di industri musik.
Meski demikian, di balik capaian streaming yang mengesankan, muncul keraguan besar mengenai identitas Sienna Rose.
Sejumlah pendengar dan pengamat industri mulai mempertanyakan apakah sosok ini benar-benar manusia atau justru merupakan produk kecerdasan buatan.
Salah satu hal yang memicu kecurigaan adalah ketiadaan jejak publik di luar platform streaming.
Sienna Rose tidak pernah tercatat tampil secara langsung, tidak memiliki video konser, tidak muncul dalam wawancara media, dan hampir tidak meninggalkan jejak di media sosial.
Baca Juga: Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa
Foto-foto yang sempat beredar pun terlihat seragam dan memiliki karakter visual yang menyerupai gambar hasil generator AI.
Kecurigaan tersebut diperkuat oleh laporan dari bbc.com yang menyebut bahwa layanan streaming Deezer mendeteksi banyak lagu Sienna Rose sebagai musik hasil generasi komputer.
Algoritma Deezer menemukan pola khas dalam struktur suara dan komposisi lagu yang umum dijumpai pada musik AI, termasuk artefak teknis yang tidak mudah dikenali oleh pendengar awam, tetapi dapat dianalisis secara digital.
Faktor lain yang turut disorot adalah pola perilisan lagu yang dinilai tidak wajar.
Dalam kurun waktu beberapa bulan, puluhan lagu diunggah ke berbagai platform streaming.
Produktivitas setinggi ini sulit dicapai oleh musisi manusia tanpa dukungan tim besar dan sistem produksi yang terstruktur, sehingga semakin menguatkan dugaan bahwa proses kreatif di baliknya tidak bersifat konvensional.
Melansir dari ibtimes.co.uk, sebagian pendengar juga menilai komposisi lagu-lagu Sienna Rose cenderung seragam dan minim variasi ekspresi.
Pola drum yang berulang, vokal yang konsisten berada di jalur aman, serta lirik yang bersifat universal membuat lagu-lagunya dinilai kurang menampilkan identitas personal yang kuat.
Baca Juga: Lokal yang Menggantikan Platform Global, China dan Ekositem Aplikasi Digital
Fenomena musik berbasis AI seperti ini mencerminkan tantangan besar yang tengah dihadapi industri musik global.
Dengan biaya produksi yang relatif rendah, lagu-lagu hasil kecerdasan buatan dapat dirilis dalam jumlah besar dan berpotensi menghasilkan pendapatan signifikan.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan industri musik konvensional yang menuntut investasi besar, waktu panjang, dan proses kreatif yang kompleks dalam mengembangkan seorang artis.
Di sejumlah negara, lagu-lagu populer bahkan telah ditarik dari tangga lagu setelah terungkap bahwa artis di baliknya tidak benar-benar ada.
Sementara itu, jumlah musik berbasis AI yang diunggah ke platform streaming terus mengalami peningkatan secara signifikan.
Meski demikian, tidak semua musisi memandang perkembangan ini sebagai ancaman.
Dalam ajang Ivor Novello Awards 2024, penyanyi pop Raye menyatakan bahwa ia tidak melihat musik berbasis AI sebagai sesuatu yang perlu ditakuti oleh para pencipta lagu manusia.
Menurut Raye, pendengar pada akhirnya akan tetap mencari musik yang lahir dari pengalaman hidup dan kejujuran personal, bukan sekadar hasil perhitungan algoritma.
“Tidak ada alasan untuk merasa terancam. Saya menulis lagu bukan karena ingin menjadi penulis terbaik. Saya menulis karena ingin menceritakan kisah saya sendiri,” ujarnya, seperti dikutip dari bbc.com. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva