JOGJA - Tantangan dunia pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya bertumpu pada kesiapan teknis, melainkan juga pada kejernihan moral dan keamanan data.
Menanggapi fenomena global ini, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) AAN Yogyakarta memiliki wacana untuk melakukan transformasi kelembagaan dan meluncurkan media literasi digital mahasiswa.
Ketua Yayasan Notokusumo, Drs. Samudro Tjondronegoro, M.Hum. menyoroti masifnya penetrasi AI di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur hingga lingkungan perkantoran.
Menurutnya, kecerdasan buatan kini telah dirancang menyerupai kemampuan manusia, bahkan mampu bekerja mandiri sebagai mitra untuk mencari peluang pendapatan di dunia maya.
Melihat lompatan teknologi tersebut, pihak yayasan menilai kampus harus bergerak cepat melakukan penyesuaian agar mahasiswa tidak tertinggal.
"Kami bahkan sempat berdiskusi dengan Pak Happy selaku Ketua Sekolah Tinggi, apakah nama lembaga ini perlu disesuaikan dengan menambahkan satu kata lagi, menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Digital," ungkapnya usai menggelar Dies Natalis ke-47 STIA AAN Yogyakarta di kampus, Sabtu (13/6/2026).
Baca Juga: AS dan Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali
Agenda tersebut juga mengusung tema “Transformasi Administrasi Digital Berbasis Nilai Luhur Notokusumo”.
Samudro menambahkan, di balik optimisme teknologi tersebut, ia tetap memberikan catatan tebal mengenai risiko keamanan digital. Dia mengingatkan bahwa pertumbuhan teknologi selalu berdampak pada kerentanan data. Kelalaian kecil, seperti asal mengeklik perintah di situs web, bisa berakibat fatal pada kebocoran rahasia industri maupun personal.
"Salah satu kelemahan kita adalah keamanan teknologi yang belum mendapat perhatian khusus karena sering abai terhadap risiko. Padahal, data yang bocor bisa dimanfaatkan pesaing atau musuh untuk menghancurkan sistem, seperti yang kita lihat dalam konfrontasi teknologi tingkat internasional," tambahnya.
Baca Juga: Review Jujur 3 Girl Group Populer Saat Ini: Mengintip Pesona Katseye, ILLIT, dan LE SSERAFIM
Oleh karena itu, ia ingin, kurikulum kampus ke depan bakal diintegrasikan dengan materi manajemen risiko dan keamanan digital.
Fondasi "Notokusumo" untuk Mengawal Teknologi dengan Nilai Luhur
Rencana besar menyongsong era digital ini disebutkan tidak akan melepas identitas historis yang dimiliki kampus.
Samudro menegaskan, secanggih apa pun teknologi yang diadopsi, STIA AAN Yogyakarta akan tetap berpijak pada nilai-nilai dasar "Notokusumo" yang diwariskan oleh Sri Paduka Paku Alam VIII sejak 7 Juni 1979.
Baca Juga: Hari Demam Berdarah ASEAN 2026: Komitmen Bersatu Menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030
Secara filosofis, Noto berarti penataan atau manajemen, sedangkan Kusumo bermakna bunga atau anak bangsa yang datang dari Sabang sampai Merauke.
"Misi perguruan tinggi ini adalah mengelola anak-anak bangsa dari berbagai daerah agar diberikan kecerdasan untuk menjadi calon-calon pemimpin bangsa," jelasnya.
Lebih lanjut, semangat ini berakar dari pemikiran Sri Paduka Paku Alam V yang menyatakan bahwa pendidikan adalah senjata utama agar bangsa ini tidak dijajah dan mampu berdiri setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Dia menjelaskan, sebagai salah satu pusat kebudayaan di Yogyakarta, Kadipaten Puro Pakualaman memandang kemerdekaan 17 Agustus 1945 harus diteruskan melalui kebangkitan pendidikan yang berlandaskan nilai budi luhur di mana penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu tolok ukur tingginya derajat suatu bangsa.
Baca Juga: Kaldu Bubuk Royco Buat Masakan Lebih Sedap
Membentengi Mahasiswa dari Degradasi Moral Digital
Pentingnya nilai budi luhur ini menjadi jembatan krusial di tengah realitas sosial hari ini, di mana teknologi digital sering kali memicu penurunan kualitas moral di masyarakat.
Mengamati fenomena komunikasi masa kini, muncul keprihatinan mengenai maraknya sifat sombong, kata-kata tidak senonoh, dan hilangnya kesopanan akibat sekat layar gawai.
Baca Juga: Pemkot Jogja dan DPRD Kota Jogja Siap Fasilitasi Lampu Mandala Krida
Samudro membenarkan keresahan tersebut. Menurutnya, banyak orang merasa bahwa ucapan di media sosial tidak berdampak apa-apa, padahal efeknya sangat luas dan mudah menyulut konflik horizontal maupun hoax.
“Jangan dianggap bicara di handphone atau tablet itu tidak berdampak. Apalagi jika yang berbicara adalah tokoh kunci, dampaknya akan sangat masif. Di sinilah pentingnya memanfaatkan teknologi dengan tetap berlandaskan nilai-nilai luhur," tegasnya.
.
Editor : Heru Pratomo