Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS, Sebut Negosiasi Tak Logis karena Pelanggaran Kesepakatan

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 26 Maret 2026 | 10:20 WIB

Iran secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dari AS yang disampaikan melalui Pakistan.
Iran secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dari AS yang disampaikan melalui Pakistan.

TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas.

Iran secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dari AS yang disampaikan melalui Pakistan.

Menurut media pemerintah Iran, FARS News Agency, sumber terinformasi menyatakan bahwa bernegosiasi dengan pihak yang sering melanggar kesepakatan seperti JCPOA 2015 tidaklah masuk akal.

Penolakan ini muncul meski pemerintahan Presiden Donald Trump disebut telah menyodorkan rencana damai 15 poin untuk gencatan senjata satu bulan.

Proposal tersebut mencakup relief sanksi, kerjasama nuklir sipil, pembatasan program rudal, serta jaminan keamanan pengiriman melalui Selat Hormuz – jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia.

“Pada dasarnya, tidak logis memasuki proses semacam ini dengan mereka yang melanggar kesepakatan,” ujar sumber tersebut kepada FARS, seperti dikutip CNBC pada Rabu (25/3/2026).

Konflik yang meletus sejak akhir Februari 2026 ini telah memicu serangkaian serangan udara AS-Israel terhadap Iran, disusul balasan rudal dan serangan Iran ke berbagai target di kawasan.

Pakistan muncul sebagai mediator potensial, dengan pejabatnya mengonfirmasi telah menyampaikan proposal AS ke Tehran.

Namun, Iran tetap skeptis dan beberapa pihak menyebut rezim Tehran justru menginginkan akhir perang secara permanen, bukan sekadar jeda sementara.

Penolakan ini langsung berdampak pada pasar global.

Harga minyak mentah Brent sempat naik sekitar 2 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Pasar saham pun melemah di tengah ketidakpastian geopolitik.

Bagi Indonesia, khususnya warga Yogyakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong inflasi BBM dan barang kebutuhan pokok.

Masyarakat diimbau mewaspadai dampak lanjutan terhadap ekonomi domestik, sementara pemerintah pusat terus memantau perkembangan untuk menjaga stabilitas energi nasional.

Beberapa pengamat di media sosial skeptis terhadap laporan media negara Iran, mengingat sejarah klaim yang sering dipertanyakan.

Sementara itu, sebagian pihak menilai Iran ingin “mengajarkan pelajaran keras” agar musuh tidak berani menyerang lagi di masa depan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih mengenai respons atas penolakan Iran.

Situasi di Timur Tengah tetap dinamis, dengan potensi eskalasi yang terus mengancam stabilitas regional dan global. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#presiden donald trump #damai #krisis #perang iran #gencatan senjata #minyak #iran #kesepakatan