WASHINGTON – Amerika Serikat kembali menegaskan posisinya sebagai superpower energi dunia.
Produksi total petroleum liquids AS kini mencapai sekitar 24 juta barel per hari pada awal 2026, melampaui gabungan produksi Arab Saudi (9,5 juta bpd) dan Rusia (9,9 juta bpd).
Klaim ini disampaikan langsung oleh akun resmi Departemen Energi AS (@ENERGY) di platform X, yang langsung viral dan memicu perdebatan global.
Menurut data yang dikutip dari EIA (U.S. Energy Information Administration) dan IEA, pencapaian ini merupakan buah dari kebijakan pro-drilling yang gencar diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Video pendek yang menyertai unggahan menampilkan Trump bersama Menteri Energi Chris Wright membahas cadangan energi Amerika yang melimpah, diakhiri slogan ikonik "Drill, baby, drill!" yang menjadi mantra kebijakan energi mereka.
Apa Itu Petroleum Liquids dan Mengapa Angkanya Besar?
Petroleum liquids mencakup tidak hanya minyak mentah (crude oil), tetapi juga natural gas liquids (NGLs), kondensat, dan produk cair lainnya dari proses produksi gas alam.
Sementara produksi crude oil AS diproyeksikan stabil di kisaran 13,6 juta barel per hari sepanjang 2026 menurut forecast EIA terbaru, total liquids mencapai level jauh lebih tinggi berkat boom shale dan teknologi fracking modern.
Dengan angka ini, AS tidak hanya menjadi produsen minyak terbesar dunia, melainkan juga mendominasi pasokan energi cair global.
Produksi AS saja hampir setara atau melebihi gabungan dua raksasa OPEC+ tersebut, menandakan pergeseran kekuatan geopolitik energi yang signifikan.
Baca Juga: Kapal Perang Rusia dari Armada Pasifik Siap Dibuka untuk Umum di Pelabuhan Tanjung Priok
Kebijakan Trump dan Chris Wright: Kunci Keberhasilan
Presiden Trump dan Secretary of Energy Chris Wright secara konsisten mendorong deregulasi, percepatan izin pengeboran, serta fokus pada energy dominance Amerika.
Kebijakan "Drill, Baby, Drill" yang sempat menjadi jargon kampanye kini terbukti membuahkan hasil nyata di lapangan.
Pendukung kebijakan ini menyebut pencapaian tersebut sebagai bukti kemandirian energi AS, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat posisi tawar di kancah internasional.
Namun, tidak semua pihak setuju. Beberapa kritik muncul di balasan unggahan tersebut. Sebagian menyebut angka 24 juta barel mencakup NGLs sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan "minyak mentah" murni.
Ada pula yang mempertanyakan mengapa harga bensin di AS masih di kisaran $3,50 per galon meski produksi melimpah, serta fakta bahwa sebagian besar produksi diekspor daripada digunakan domestik sepenuhnya.
Dampak Global dan Relevansi bagi Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga.
Meski produksi minyak nasional masih jauh di bawah target (sekitar 600 ribu barel per hari), lonjakan pasokan dari AS berpotensi menekan harga minyak dunia jangka panjang — meski saat ini fluktuasi tetap tinggi akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM terus mendorong peningkatan lifting minyak dan gas, termasuk eksplorasi baru serta optimalisasi blok-blok existing.
Pengalaman AS menunjukkan bahwa kebijakan pro-investasi dan teknologi canggih bisa mengubah sebuah negara menjadi eksportir energi utama.
Apakah "Drill, Baby, Drill" akan terus menjadi tren global?
Atau justru mempercepat transisi ke energi terbarukan?
Diskusi masih panas di kalangan analis energi. (iwa)
Berita ini disusun berdasarkan unggahan resmi Departemen Energi AS dan data EIA/IEA per Maret 2026.
Editor : Iwa Ikhwanudin