RADAR MALIOBORO - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bersiap menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Jumat (19/06/2026). Melalui Kementerian Aksi dan Propaganda, seruan ini digaungkan sebagai bentuk perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai gejala Republik Otoriter.
Gerakan ini dipicu oleh keprihatinan mendalam para mahasiswa terhadap kondisi demokrasi di Indonesia saat ini. BEM UAD menilai ruang berpendapat bagi masyarakat kian menyempit, sementara berbagai kebijakan publik terus dilahirkan secara sepihak tanpa adanya proses partisipatif yang melibatkan publik.
“Ketika ruang demokrasi semakin menyempit, ketika kebijakan lahir tanpa mendengar suara rakyat, dan ketika kepentingan segelintir pihak lebih diutamakan daripada kesejahteraan bersama, maka diam bukan lagi pilihan,” tegas BEM UAD dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (18/6/2026).
Baca Juga: Kejutan Macau Open 2026: Bagas Shujiwo Tumbangkan Lee Zii Jia Asal Malaysia
Dalam aksi moral ini, massa membawa tiga tuntutan utama yang menjadi motor penggerak perlawanan, yaitu:
1. Bangun Persatuan Rakyat
2. Rebut Daulat Rakyat
3. Lawan Republik Otoriter
Agenda ini tidak hanya memobilisasi mahasiswa internal UAD, tetapi juga bersifat terbuka bagi seluruh elemen masyarakat yang merasakan keresahan serupa atas kondisi kebangsaan saat ini. Melalui seruan ini, aliansi mahasiswa berharap dapat memantik kembali kesadaran kritis publik bahwa perbaikan tatanan bernegara hanya bisa dicapai melalui pergerakan bersama.
Massa direncanakan akan melakukan konsolidasi awal di titik kumpul sebelum bergerak bersama untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada para wakil rakyat. Berikut adalah rincian teknis pelaksanaan aksi.
Baca Juga: Menilik Sejarah dan Keunikan di Balik Perayaan Hari Sushi Internasional 18 Juni
Hari/tanggal : Jumat, 19 Juni 2026
Waktu : 13.00 WIB s.d. selesai
Titik kumpul : Kantin Adi, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan
Titik tujuan : Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Dresscode : Baju Hitam (Simbol keprihatinan atas matinya ruang demokrasi)
Aksi ini diharapkan menjadi wadah bagi masyarakat dan mahasiswa Yogyakarta untuk menyuarakan penolakan terhadap kesewenang-wenangan dan menuntut dikembalikannya hak-hak demokratis rakyat.
(Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin