RADAR MALIOBORO - Pemilihan presiden FIA (Fédération Internationale de l'Automobile) tahun ini yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, secara kontroversial menempatkan Ben Sulayem maju tanpa lawan.
Ben Sulayem mencalonkan diri tanpa lawan setelah calon pesaingnya, mantan stewards FIA Tim Mayer, pembalap Swiss-Prancis Laura Villars, serta seorang model dan influencer Virginie Philippot, tidak dapat memenuhi persyaratan pemilu FIA.
Menurut regulasi FIA, setiap calon presiden wajib menyerahkan daftar tim pendukung berisi 10 orang paling lambat 24 Oktober.
Tim ini harus mencakup Presiden Senat, Wakil Presiden Mobilitas dan Pariwisata, Wakil Presiden Olahraga, serta tujuh Wakil Presiden Olahraga dari berbagai kawasan dunia, seperti Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia-Pasifik, Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara, serta dua dari Eropa.
Seseorang harus ditunjuk dari tiap-tiap wilayah global FIA, namun hanya ada satu orang Amerika Selatan dan memenuhi syarat.
Ia adalah Fabiana Ecclestone, istri dari mantan bos F1 Bernie Ecclestone, dan telah menyatakan dukungannya untuk berpihak kepada Ben Sulayem.
Kondisi ini membuat dua kandidat lain yakni Virginie Philippot dan Tim Mayer dari Amerika terpaksa menarik diri dari pencalonan karena mereka tidak mampu mengumpulkan daftar tim pendukung yang dibutuhkan.
Proses tersebut dikecam sebagai "ilusi demokrasi" oleh mantan stewards FIA, Tim Mayer, yang menyatakan bahwa beberapa wakil presiden yang memenuhi syarat dari Amerika Selatan mungkin telah "dibujuk, ditekan, atau dijanjikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan".
Di lain pihak, Laura Villars menggugat FIA ke pengadilan Prancis atas proses yang dianggap tidak demokratis.
Dilansir dari situs resmi FIA pada Jumat 12 Desember 2025, Mohammed Ben Sulayem, yang mencalonkan diri tanpa lawan, resmi terpilih kembali sebagai presiden FIA dan akan menjalani masa jabatan empat tahun kedua hingga tahun 2029.
"Terima kasih kepada semua Anggota FIA yang telah memberikan suara dengan jumlah yang luar biasa dan menaruh kepercayaan kepada saya sekali lagi," kata Ben Sulayem.
"Sungguh suatu kehormatan untuk menjadi presiden FIA, dan saya berkomitmen untuk terus memberikan yang terbaik untuk FIA, untuk motorsport, untuk mobilitas, dan untuk Klub Anggota kami di setiap wilayah di seluruh dunia", lanjutnya.
"Pemilihan dilakukan sesuai dengan statuta FIA melalui proses pemungutan suara yang kuat dan transparan, yang mencerminkan dasar-dasar demokratis dari federasi dan suara kolektif keanggotaan globalnya," demikian siaran pers FIA yang mengumumkan terpilihnya kembali Mohammed Ben Sulayem.
Di masa jabatan sebelumnya, Ben Sulayem dikenal karena sikap tegasnya dalam berbagai isu, mulai dari batasan anggaran (budget cap) untuk setiap tim di Formula 1 hingga masuknya tim-tim baru seperti Andretti/Cadillac. (Muhammad Aryo Witjaksono)
Editor : Meitika Candra Lantiva