Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Memeringati Hari Olimpiade Sedunia, Mengingat Kembali Perjalanan Indonesia di Ajang Olahraga Terbesar

Bunga Faizati Hudianna • Selasa, 23 Juni 2026 | 13:40 WIB
Alan Budikusuma dan Susi Susanti pada podium Olimpiade Barcelona 1992.
Alan Budikusuma dan Susi Susanti pada podium Olimpiade Barcelona 1992.

RADAR MALIOBORO - Setiap tanggal 23 Juni, dunia bersatu merayakan Hari Olimpiade Sedunia (Olympic Day). Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk menengok kembali rekam jejak dan perjuangan Indonesia di panggung olahraga tertinggi dunia.

Sejak pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih, Indonesia telah melewati perjalanan yang panjang, mulai dari sebuah negara baru yang memperjuangkan pengakuan kedaulatan lewat olahraga, hingga kini menjadi salah satu kekuatan dunia.

Kisah Indonesia dan Olimpiade dimulai tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika roda ekonomi dan sosial kemasyarakatan mulai bergerak, aktivitas keolahragaan pun turut menggeliat. 

Baca Juga: Menilik Sejarah dan Esensi Peringatan Hari Olimpiade Internasional 23 Juni

Tepat pada 19 Januari 1947 di Yogyakarta, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) resmi berdiri dengan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai ketua umum pertama. Setelah dilantik oleh Presiden Soekarno, Sultan HB IX langsung bergerak cepat melakukan langkah diplomasi internasional. 

Beliau menyurati International Olympic Committee (IOC) dengan surat berbahasa Prancis tertanggal 10 Februari 1947. Lewat surat tersebut, Indonesia mengajukan diri menjadi anggota IOC sekaligus menyatakan minat untuk berpartisipasi dalam Olimpiade ke-14 di London pada tahun 1948.

Namun, takdir berkata lain, kondisi keamanan dalam negeri yang tidak kondusif akibat Agresi Militer Belanda membuat KOI terpaksa mengubur mimpi untuk mengirimkan kontingen pertamanya ke London.

Baca Juga: Kreasi Tanpa Batas, Intip Uniknya Produk Kerajinan Berbahan Skateboard Usang

Titik balik baru tercipta usai pelaksanaan Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan RI pada Desember 1949. Situasi yang kian kondusif memicu keberhasilan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) II di Jakarta pada 1951.

Keberhasilan PON II melecut semangat KOI. Pada awal tahun 1952, tepatnya 25 Februari, KOI kembali menyurati IOC untuk meminta pengakuan resmi, dengan menegaskan bahwa statuta KOI telah sesuai dengan dasar-dasar statuta IOC. Dalam surat tersebut, Indonesia juga menegaskan kesiapan mengirimkan atlet ke Olimpiade ke-15 di Helsinki, Finlandia, pada tahun yang sama.

Pada 11 Maret 1952, Kanselir IOC Otto Mayer mengirimkan surat balasan yang menyatakan bahwa IOC telah resmi mengakui KOI. Olimpiade Helsinki 1952 akhirnya mencatatkan sejarah sebagai keikutsertaan perdana Indonesia di pesta olahraga dunia. 

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Berikan Tips Menjaga Jarak Aman Berkendara Kepada Siswa SMK Muhammadiyah Kutowinangun

Delegasi kecil yang terdiri dari tiga atlet, Maram Sudarmodjo (atletik), Habib Suharko (renang), dan Thio Ging Hwie (angkat besi) dengan bangga membawa nama Indonesia di Stadion Olimpiade Helsinki. Meski belum membawa pulang medali, kehadiran mereka adalah kemenangan diplomatik besar yang menegaskan eksistensi Indonesia di mata dunia.

Nostalgia manis berlanjut ke Seoul, Korea Selatan, pada tahun 1988. Setelah 36 tahun menanti sejak debut di Helsinki, Indonesia akhirnya berhasil “pecah telur”.

Momen bersejarah ini diukir oleh trio pemanah putri Indonesia yang dijuluki Tiga Srikandi, yakni Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani. Mereka berhasil meraih medali perak yang membuka gerbang optimisme bagi generasi atlet setelahnya.

Empat tahun berselang, sejarah besar benar-benar tercipta di Barcelona 1992. Olimpiade ini menjadi saksi lagu Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kalinya di podium tertinggi.

Baca Juga: Dunia Dosen Gelar Coaching Clinic Hibah BRIN 2026 untuk Bantu Dosen Siapkan Proposal Riset Kompetitif

Susi Susanti dan Alan Budikusuma mengawinkan medali emas di nomor tunggal putri dan tunggal putra bulu tangkis. Momen Susi Susanti menangis haru di bawah bendera Merah Putih hingga kini menjadi salah satu torehan ikonik olahraga nasional.

Sejak saat itu, bulu tangkis resmi menjadi “tambang emas” andalan Indonesia yang terus melahirkan legenda dunia dari generasi ke generasi.
Hari Olimpiade Sedunia yang diperingati setiap 23 Juni membawa pesan Move, Learn, Discover, and Together for a Better World. Bagi Indonesia, perayaan ini adalah pengingat bahwa prestasi di Olimpiade tidak lahir secara instan. 

Peta kekuatan olahraga nasional kini terus berkembang, di mana cabang angkat besi secara konsisten menyumbang medali, disusul potensi besar baru di cabang modern seperti sport climbing (panjat tebing) dan selancar (surfing).

Baca Juga: Polemik Pengadaan Motor Listrik Badan Gizi Nasional: Dari Dugaan Korupsi hingga Rencana Hibah untuk Guru Honorer

Perjalanan panjang dari perjuangan surat-surat diplomatik Sultan HB IX hingga tradisi emas hari ini adalah bukti bahwa keterbatasan di masa lalu bukanlah penghalang untuk mencapai puncak dunia. Tugas kita sekarang adalah memastikan api semangat tersebut tidak pernah padam dan terus melahirkan pahlawan-pahlawan olahraga baru di masa depan. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#hari olimpiade internasional #ajang olahraga terbesar #olimpiade