RADAR MALIOBORO — Pohon beringin kembar yang berdiri gagah di tengah Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta bukan sekadar pohon besar yang menjadi ikon wisata malam kota ini. Di balik rindangnya daun dan akarnya yang menjalar, tersimpan sejarah panjang dan makna simbolik yang erat kaitannya dengan Keraton Yogyakarta.
Pohon beringin ini diberikan pagar yang dikenal sebagai ringin kurung atau ringin sengkeran.
Pohon beringin yang ada di tengah Alun-alun Kidul berjumlah sepasang dengan nama Supit Urang. Jarak dari kedua pohon ini sekitar 15 meter.
Selain Supit Urang, di kawasan Alun-alun Kidul juga ditemukan pohon beringin yang berada di selatan lapangan alun-alun atau di ujung utara jalan menuju Plengkung Nirbaya. Terdapat dua pohon beringin dengan nama Kiai Wok yang diambil dari kata brewok.
Di sekitar Alun-alun Kidul juga ditemukan berbagai jenis pohon lainnya, yaitu pohon pakel dan kweni yang ditanam berjejer mengelilingi Alun-alun Kidul. Pohon-pohon tersebut masih satu kerabat dengan pohon mangga.
Dahulu, Alun-Alun Kidul berfungsi sebagai tempat latihan prajurit keraton serta lokasi acara adat kerajaan. Sedangkan pohon beringin kembar dijadikan sebagai batas simbolis antara rakyat dan raja. Siapa pun yang ingin menghadap raja, harus melewati beringin tersebut sebagai bentuk penghormatan dan penyucian diri.
Kini, beringin kembar menjadi daya tarik wisata populer dengan tradisi unik bernama “masangin” berjalan lurus melewati dua beringin dengan mata tertutup. Konon, siapa pun yang berhasil berjalan tepat di tengah tanpa keluar jalur akan dikabulkan keinginannya.
Meski sudah berusia lebih dari dua abad, kedua pohon beringin itu tetap dirawat dengan baik oleh pihak Keraton. Selain menjadi saksi bisu sejarah berdirinya Yogyakarta, beringin kembar juga menjadi simbol abadi keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
(Dela Apriyanti)
Editor : Iwa Ikhwanudin