Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menyusuri Lorong Waktu di Taman Sari: Jejak Kejayaan 'Istana Air' yang Tak Lekang Zaman

Magang Radar Malioboro • Jumat, 2 Januari 2026 | 15:01 WIB
Taman Sari, kompleks pemandian kerajaan di Yogyakarta.
Taman Sari, kompleks pemandian kerajaan di Yogyakarta.

MALIOBORO - Yogyakarta tak pernah kehabisan mantra untuk memikat pelancong, dan Taman Sari adalah buktinya.

Berdiri kokoh sejak abad ke-18 di jantung Kraton, kompleks pemandian kerajaan ini tetap menjadi primadona wisata.

Lokasi ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan perpaduan eksotis antara arsitektur kuno dan selubung mitos yang terus hidup di ingatan publik.

Untuk masuk ke Taman Sari, wisatawan cukup membayar Rp 10.000 untuk anak-anak (2–12 tahun) dan Rp 15.000 untuk dewasa.

Jam kunjungannya mulai pukul 09.00–15.00 WIB.

Ada juga paket khusus foto dengan tarif Rp 150.000 untuk pelajar/mahasiswa dan Rp 250.000 untuk pre-wedding atau keperluan lain.

Dikutip dari KabarBUMN.com, Taman Sari bukan sekadar situs wisata, melainkan monumen cinta Sultan Hamengku Buwono I bagi sang permaisuri yang setia mendampingi masa sulit Perang Giyanti.

Kompleks ini dirancang melampaui zamannya: menyatukan fungsi oase rekreasi, ruang hening meditasi, hingga benteng pertahanan yang kokoh.

Sebuah fusi arsitektur jenius yang memadukan estetika, spiritualitas, dan strategi militer.


Bangunan pemandian, lorong bawah tanah, dan ruang dansa menjadi daya tarik utama.

Suasananya teduh dengan pepohonan rindang, cocok untuk beristirahat sejenak.

Wisatawan juga bisa menemukan kios cinderamata dan warung kuliner khas di sekitar lokasi.

Eksplorasi Taman Sari tak lengkap tanpa menyinggung misteri perut buminya.

Keberadaan lorong bawah tanah, termasuk Sumur Gumuling, dipercaya sebagai gerbang spiritual yang terhubung ke Pantai Selatan.

Meski lorong tersebut kini buntu, kisah pertemuan Sultan dan Ratu Pantai Selatan tetap abadi, menambah dimensi spiritual yang memperkaya pengalaman wisata sejarah di sini.


Taman Sari juga menampilkan perpaduan arsitektur Jawa tradisional dengan sentuhan Eropa dan Portugis.

Seorang arsitek Portugis yang dikenal dengan nama Demang Tegis dipercaya terlibat dalam perancangan bangunan ini.

Ciri khasnya terlihat pada dinding-dinding tebal, lengkungan pintu bergaya barok, serta penggunaan kanal air yang mengingatkan pada kastil Eropa.

Namun, tetap ada nuansa kosmologi Jawa yang menyimbolkan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.

Bilik Pemandian Sultan Menuju Panggung Pariwisata Internasional


Awalnya, kompleks Taman Sari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan berupa kolam, kanal air, dan taman.

Kini, yang tersisa hanya sebagian kecil akibat kerusakan dari gempa serta perubahan fungsi lahan menjadi permukiman warga (Kraton Jogja, 2024).

Meski begitu, pesonanya tetap memikat wisatawan dari seluruh dunia.

Di balik julukan anggun 'Water Castle', Taman Sari sesungguhnya adalah benteng pertahanan yang berkamuflase.

Arsitekturnya dirancang taktis dengan jaringan lorong bawah tanah dan kanal air, yang siap bertransformasi menjadi jalur evakuasi darurat bagi Sultan dan keluarga kerajaan saat bahaya mengancam. (Muhammad Aryo Witjaksono)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Istana Air Jogja #mitos #Jejak Kejayaan #Wisata Yogyakarta #tarif #Lorong Waktu #taman sari