Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Banyak Orang Takut Bilang “Tidak” Meski Dirinya Keberatan

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Ilustrasi kenapa banyak orang takut mengatakan tidak meski dirinya keberatan. (Pinterest)
Ilustrasi kenapa banyak orang takut mengatakan tidak meski dirinya keberatan. (Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Pernah merasa tidak nyaman, tapi tetap mengiyakan permintaan orang lain? Mulai dari dimintai tolong di luar kemampuan kita, diajak datang ke acara yang melelahkan, sampai menerima tugas tambahan padahal sudah kewalahan. Fenomena ini ternyata dialami banyak orang, dan sering kali terjadi tanpa disadari.


Advertisement

Takut berkata “tidak” bukan sekadar soal sopan santun. Dalam kehidupan sehari-hari, ada tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus selalu mengalah agar dianggap baik, ramah, atau tidak mengecewakan orang lain.

Salah satu penyebab utamanya adalah rasa takut mengecewakan.

Banyak orang tumbuh dengan nilai bahwa menolak berarti egois atau tidak peduli. Akibatnya, kebutuhan pribadi sering dikorbankan demi menjaga perasaan orang lain.

Advertisement

Selain itu, ada juga kecemasan akan penilaian sosial. Kekhawatiran dicap tidak kooperatif, tidak setia kawan, atau dianggap sombong membuat seseorang memilih diam, meski hatinya menolak. Di lingkungan kerja, keluarga, bahkan pertemanan, tekanan ini bisa terasa sangat kuat.

Faktor lain yang sering muncul adalah kurangnya batasan diri. Tidak semua orang terbiasa mengenali mana yang sanggup dan mana yang sudah melewati batas.

Tanpa batas yang jelas, kata “iya” sering keluar secara otomatis, meski tubuh dan pikiran sudah lelah.

Advertisement

Kebiasaan ini jika dibiarkan bisa berdampak pada kesehatan mental.

Terlalu sering memaksakan diri dapat memicu stres, kelelahan emosional, hingga perasaan kesal yang terpendam.

Ironisnya, orang lain belum tentu menyadari bahwa bantuan yang diberikan sebenarnya penuh keterpaksaan.

Belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menjadi pribadi yang buruk. Justru sebaliknya, menolak dengan jujur dan sopan adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Dengan mengenali batas kemampuan, hubungan sosial pun bisa menjadi lebih sehat dan saling menghargai.

Mengatakan “tidak” bukan soal menolak orang lain, tetapi tentang menghargai diri sendiri. Karena pada akhirnya, membantu orang lain akan terasa lebih bermakna jika dilakukan tanpa rasa terpaksa.
(Aribah Zalfa Nur Aini)

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber

Artikel Terkait

Akses Ditutup Portal Proyek, Pedagang Pantai Mengadu ke DPRD Gunungkidul

Akses Ditutup Portal Proyek, Pedagang Pantai Mengadu ke DPRD Gunungkidul

Mereka memprotes akses utama menuju pantai yang kini diportal karena proyek pembangunan. Ketika jalan ditutup, wisatawan tidak bisa masuk dan lapak pedagang otomatis sepi pembeli.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer