RADAR MALIOBORO - Eskalasi perang di Timur Tengah semakin memuncak pada Kamis, 5 Maret 2026.
Iran meluncurkan gelombang rudal balistik terbaru, termasuk rudal hipersonik Fattah-2, ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang telah menghantam Teheran selama enam hari berturut-turut.
Sirene serangan udara kembali meraung di Tel Aviv dan Yerusalem, memaksa jutaan warga berlindung di bunker sementara Iron Dome Israel berupaya mencegat proyektil yang datang.
Menurut laporan militer Israel, serangan Iran kali ini mencakup rudal dengan hulu ledak berat hingga satu ton, menargetkan area militer dan sipil di pusat negara.
Beberapa rudal berhasil menembus pertahanan, menyebabkan ledakan di Tel Aviv dan sekitarnya, dengan laporan korban luka akibat serpihan dan kerusakan bangunan.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim serangan ini bagian dari operasi balasan "True Promise" lanjutan, menyasar pangkalan militer dan infrastruktur strategis Israel.
Di sisi lain, Israel dan AS terus membombardir target di Iran, termasuk situs rudal balistik bawah tanah di Teheran dan Isfahan.
Ledakan besar terdengar di ibu kota Iran, dengan kerusakan parah pada infrastruktur pemerintahan dan militer.
Korban jiwa di Iran dilaporkan mencapai lebih dari 1.000 orang dalam lima hari pertama, termasuk warga sipil dan anak-anak, sementara di Israel korban tewas mencapai belasan dengan ratusan terluka.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 ini telah meluas, melibatkan serangan drone Iran ke wilayah tetangga seperti Azerbaijan dan serangan balik ke basis AS di kawasan Teluk.
Hezbollah di Lebanon juga ikut melancarkan rudal ke utara Israel, memaksa evakuasi di Beirut selatan.
Dampak Langsung ke Indonesia & Jogja: Lonjakan Harga Minyak Global, Inflasi Mengintai
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, konflik ini menjadi ancaman serius.
Penutupan sebagian Selat Hormuz akibat ketegangan telah mendorong harga minyak dunia mendekati level tinggi, berpotensi memicu kenaikan harga BBM domestik.
Di Yogyakarta, yang bergantung pada transportasi darat dan pariwisata Malioboro, lonjakan biaya logistik bisa menekan harga kebutuhan pokok seperti beras, sayur, dan bahan bakar kendaraan.
Ekonom lokal memperingatkan risiko inflasi lebih tinggi jika konflik berlarut-larut, memengaruhi daya beli masyarakat Jogja.
Pemerintah daerah diharapkan siapkan langkah antisipasi, termasuk stabilisasi harga pangan dan subsidi energi bagi UMKM.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas global. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin