Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tragedi Perdamaian Oslo 1993: Jabat Tangan Rabin-Arafat Berakhir Pembunuhan, Pesan Gus Dur Masih Relevan di Tengah Konflik Israel-Palestina Hari Ini

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 5 Maret 2026 | 23:44 WIB

Momen bersejarah jabat tangan Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat di Gedung Putih 1993 membuka harapan solusi dua negara.
Momen bersejarah jabat tangan Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat di Gedung Putih 1993 membuka harapan solusi dua negara.

RADAR MALIOBORO - Momen bersejarah jabat tangan Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat di Gedung Putih 1993 membuka harapan solusi dua negara.

Namun, langkah moderat itu ditentang keras sayap kanan Israel hingga berujung tragedi pembunuhan.

Jaringan GUSDURian mengingatkan: penyelesaian konflik butuh negosiasi, bukan kekerasan—sejalan pandangan Abdurrahman Wahid.

Konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Melalui utas di platform X, Jaringan GUSDURian (@GUSDURians) mengenang momen bersejarah Perjanjian Oslo 1993 yang melibatkan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat.

Pada 13 September 1993, di halaman belakang Gedung Putih, Washington DC, Rabin dan Arafat berjabat tangan di hadapan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sebagai mediator.

Peristiwa itu menandai penandatanganan Deklarasi Prinsip Oslo I, yang membuka jalan bagi otonomi Palestina di wilayah pendudukan dan harapan solusi dua negara (two-state solution) tanpa jalur perang.

“Langkah Rabin yang moderat dari Partai Buruh itu mendapat penolakan keras dari oposisi sayap kanan Israel yang konservatif. Mereka menolak kompromi dan mengklaim tanah Palestina sebagai hak sejarah serta teologis,” tulis akun resmi Jaringan GUSDURian dalam utas yang telah dilihat ratusan ribu kali.

Salah satu penentang vokal adalah politisi Benjamin Netanyahu, yang kala itu menjadi figur radikal sayap kanan.

Penolakan itu berujung tragis: pada 4 November 1995, Yitzhak Rabin dibunuh oleh ekstremis Yahudi sayap kanan saat menghadiri demonstrasi damai di Tel Aviv.

Rabin ditembak dua kali hanya karena berupaya mencari jalan tengah melalui perdamaian.

Jaringan GUSDURian, yang terinspirasi dari pemikiran almarhum Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menekankan bahwa konflik Israel-Palestina sejatinya adalah sengketa wilayah yang sudah berlangsung lama.

Gus Dur pernah menyebutnya sebagai “sengketa yang sudah lama”, di mana kedua pihak memiliki klaim historis yang bertabrakan.

Pandangan Gus Dur ini konsisten: penyelesaian harus melalui negosiasi politik dan dialog, bukan kekerasan atau pendekatan satu pihak.

Gus Dur bahkan dikenal dekat dengan tokoh-tokoh moderat di kedua belah pihak dan pernah berupaya membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel demi berkontribusi dalam perdamaian.

Utas tersebut memicu berbagai respons di X, mulai dari dukungan terhadap pesan perdamaian hingga perdebatan sengit soal siapa yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Oslo hingga hari ini.

Beberapa netizen mengingatkan bahwa setelah pembunuhan Rabin, sayap kanan Israel semakin dominan, sementara upaya perdamaian lanjutan seperti Camp David 2000 dan proposal Ehud Olmert 2008 juga gagal mencapai kesepakatan.

Di tengah situasi terkini yang masih memanas, pesan dari Jaringan GUSDURian ini mengajak publik Indonesia—termasuk warga Yogyakarta—untuk melihat konflik tersebut secara lebih bijak: bukan sekadar dukung-mendukung satu pihak, melainkan mendorong dialog dan kompromi seperti yang pernah dicontohkan Rabin dan diamini Gus Dur.

“Perdamaian tanpa kekerasan adalah satu-satunya jalan keluar berkepanjangan,” demikian penutup utas tersebut. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Jaringan GUSDURian #Oslo Accords 1993 #Yitzhak Rabin dibunuh #konflik Israel Palestina 2026 #perdamaian dua negara #Yasser Arafat jabat tangan Clinton #Timur Tengah terkini #pandangan Gus Dur Israel