Penelitian Terbaru: Makan Larut Malam Naikkan Risiko Penyakit Hati Hingga 30 Persen

RADAR MALIOBORO - Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology mengungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi camilan pada larut malam berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan hati. Temuan tersebut menambah bukti bahwa pola makan, termasuk waktu mengonsumsi makanan, dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh.
Dikutip dari New York Post, Senin (19/10), para peneliti menilai bahwa kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga waktu makan. Hal ini sejalan dengan sejumlah kebiasaan lain, seperti tidur dan berolahraga, yang turut memengaruhi kondisi tubuh. Salah satu penulis penelitian, Dr. Andrew W. McHill, mengatakan bahwa waktu melakukan berbagai aktivitas memiliki pengaruh penting terhadap kesehatan.
Penelitian yang melibatkan hampir 200.000 orang dari tiga studi tersebut menemukan adanya hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan risiko penyakit hati dalam jangka panjang. Peserta yang mengonsumsi makanan setelah makan malam atau mendekati waktu tidur diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) maupun sirosis selama periode pemantauan rata-rata 16 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang terbiasa makan larut malam memiliki risiko mengalami berbagai gangguan hati sekitar 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Para peneliti turut menyoroti jam sirkadian atau jam biologis internal hati yang berperan dalam mengatur proses metabolisme. Hal ini menjadi salah satu alasan waktu makan diteliti untuk mengetahui kaitannya dengan kesehatan organ tersebut.
MASLD merupakan penyakit yang terjadi akibat penumpukan lemak di hati dan berpotensi memicu peradangan. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, tetapi dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius apabila tidak ditangani. Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah sirosis, yakni kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan permanen sehingga fungsinya terganggu.
Pada tahap lanjut, sirosis dapat menghambat kemampuan hati dalam memproduksi protein, melawan infeksi, menyaring zat berbahaya dari darah, serta mendukung proses pencernaan. Gejalanya dapat berupa kelelahan, kulit dan mata menguning, tubuh mudah mengalami memar, rasa gatal yang parah, batu empedu, hingga gangguan ginjal. Meski demikian, penulis utama penelitian, Dr. Robert Wilechansky, menjelaskan bahwa tidak semua penderita perlemakan hati akan mengalami komplikasi berat. Menurutnya, hanya sebagian kecil dari mereka yang berkembang menjadi kondisi serius, seperti sirosis.
Mengonsumsi camilan sebelum tidur memang dapat membantu mengurangi rasa lapar untuk sementara waktu. Namun, kebiasaan makan pada waktu yang tidak sesuai dengan ritme biologis tubuh perlu diperhatikan. Ketika tubuh mulai bersiap untuk beristirahat, kemampuan metabolisme dalam mengolah makanan dapat berubah. Oleh karena itu, pengaturan waktu makan menjadi salah satu aspek yang patut dipertimbangkan dalam menjaga kesehatan hati dan mengurangi risiko gangguan metabolisme.
FIBRIAN PUTRI HERAGUNG
Sumber: Berbagi Sumber

