Lebih dari 400 pengrawit se-DIY bakal menampilkan karyanya selama satu pekan. Mulai 21-27 Juli 2025.
YGF dibuka dengan sambutan Gubernur DIY Hamengku Buwono X. Dalam pesannya, HB X mengingatkan, gamelan lebih dari sekadar alat musik. Namun, gamelan merupakan nafas kebudayaan.
Penyelenggaraan YGF telah berlangsung sejak 1995 silam. Atau sudah berlangsung selama 30 tahun.
Keterlibatan 400 pengrawit juga disinggung raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut. Dari pentas itu akan diperdengarkan simfoni kebersamaan melalui tiga komposisi.
“Ladrang Prosesi karya Sapto Raharjo, Ladrang Wirongrang, dan Mars YeGeEf," ucap gubernur dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi.
YGF dinilai menjadi bukti gamelan tetap hidup, terus bersuara, dan relevan dalam ruang budaya kontemporer. Khusus kepada anak muda, HB X berpesan agar mampu melihat gamelan sebagai piranti berekspresi dan inovasi, Tak sekadar pusaka yang tinggal kenangan.
"Dalam dunia yang serba digital dan cepat berubah, gamelan mengajarkan ketenangan, keseimbangan, dan kolektivitas. Nilai-nilai ini sangat kita butuhkan di tengah derasnya arus individualisme dan komodifikasi seni," jelasnya.
Dikatakan, Yogyakarta tidak akan kehilangan jati diri selama generasi muda masih mau memainkan saron, suling, dan gong.
Event tersebut menjadi salah satu upaya merawat gamelan. Bukan hanya sebagai warisan, tapi sebagai jalan untuk Hamemayu Hayuning Bawana. Menjaga harmoni jagad lahir dan batin.
Director YGF Ishari Sahida mengisahkan perjalanan panjang YGF lahir dari dedikasi khususnya Komunitas Gayam 16. Awalnya gelaran tersebut dinisiasi oleh maestro gamelan Yogyakarta Sapto Raharjo yang juga ayah Ishari.
Pertama kali diadakan pada 1995 dengan dukungan Geronimo Listener Club atau pendengar radio Geronimo FM yang berbasis di Yogyakarta. Kemudian pada tahun 2000, gelaran itu dikembangkan oleh Komunitas Gayam 16.
"Kami mencoba menghadirkan YGF sebagai even seni musik yang memawa spirit gamelan," ujarnya.
Total ada sebanyak 16 kelompok seni gamelan yang akan tampil pada hari pertama even YGF tahun ini. Kemudian ada sekitar 15 komposisi gendhing yang akan direspon seniman melalui visual dan diproyeksikan di gedung TBEG.
Ini menjadi daya tarik perhelatan YGF tahun ini. Seperti karya instalasi Jompet Kuswidananto dari sisa rel kereta api hingga kolaborasi dengan Departemen Teknik Elektro UGM dan komunitas Gayam16 dalam karya eksperimental.
"Ini adalah wujud kerja bersama dengan seluruh pihak," tandasnya.
Ari Wulu, sapaan akrabnya, menyampaikan selama sepekan akan ada Pasar dan Panggung Cokekan. Sesi acara tersebut terdapat pameran kuliner lokal, kriya, pertunjukan rakyat, hingga lomba memasak tampil berdampingan.
Ruang ini inklusif dan bebas partisipasi, menjadikannya panggung rakyat yang hidup, cair, dan penuh kejutan.
Kemudian adanya Konggres Gamelan yang menghadirkan praktisi dan sesepuh untuk berdiskusi tentang arah gamelan di era digital. "YGF bukan hanya ruang ekspresi, tapi juga refleksi," tandasnya.
Beberapa penampil YGF di antaranya kelompok Paseduluran Nandur Banyu (Gunung Kidul), Pasraman Padma Bhuana Saraswati (Kota Yogyakarta), Guangxi Arts University (Nanning, China), Gondrong Gunarto & Friends (Solo), hingga Andrew Timar (Ontario, Canada) dan Kadapat (Bali).
Tak hanya itu, ada pula penampil Gangsadewa Ethnic Ensamble (Kota Yogyakarta), Artaxiad Gamelan Syndicate (Solo), Beringin Korong (Pamekasan) dan Letto x Kiai Kanjeng.
Dalam kesempatan itu, Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Purbodiningrat mengapresiasi penyelenggaraan YGF ke-30 itu. Dua menilai acara itu merupakan bukti nyata dan komitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan gamelan sebagai warisan budaya nusantara.
Bukan hanya seni pertunjukan, tapi sebagai bahasa jiwa, ruang meditasi, sekaligus jembatan antarbangsa. Dia menilai gamelan bukan hanya untuk didengar. Namun dirasakan dan dimaknai.
Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa, memiliki tanggung jawab moral dan historis. Lewat YGF, gamelan menyatukan dan melintasi batas usia, bangsa, serta zaman.
Sejumlah pertunjukan memeriahkan YGF ke-30 Tahun 2025. Saat pembukaan ada pertunjukan gamelan yang memainkan tiga gendhing gaya Yogyakarta secara bersamaan. Kemudian ada Kongres Gamelan pada Selasa (22/7) dan Panggung Slenthem menghadiran musik, sastra, puppet atau wayang, film dan lainnya pada 22-24 Juli 2025.
Lokakarya Gamelan Tanpa Tembok pada 22-24 Juli 2025. Program Sorot Sumirat menjadi ruang kolaborasi musik dan seni cahaya video mapping pada 23-25 Juli 2025. Selanjutnya, Konser Maestro menjadi momen spesial mengenang tiga maestro seni Indonesia. Sapto Raharjo, Harry Roesli dan Djaduk Ferianto. Acara ini digelar di Concert Hall Taman Budaya Embung Giwangan pada Rabu 23 Juli 2025. (oso/kus)
Editor : Bahana.