RADAR MALIOBORO - Ikan dewa banyak ditemukan di wilayah yang dikeramatkan sejak zaman nenek moyang.
Meski habitatnya di sungai yang airnya jernih dan deras, namun ikan dewa menjadi sulit ditemukan di habitat aslinya karena lingkungannya telah dirusak.
Di sekitar Gunung Ciremai, Jawa Barat, ikan dewa dianggap keramat karena hanya dapat ditemukan di wilayah kolam keramat tertentu, seperti Cigugur, Cibulan, Linggarjati, Pasawahan, dan Darmaloka di Kabupaten Kuningan.
Ikan dewa merupakan bagian dari genus Tor. di Indonesia sendiri, setidaknya ditemukan empat jenis ikan ini yaitu Tor tambroides, Tor douronensis, Tor soro, dan Tor tambra.
Nama ‘dewa’ ini lebih dikenal di Jawa. Sebutan lain berbeda di setiap daerah, seperti ikan semah (Sumsel), ikan sapan (Kalimantan), dan ikan batak (Sumut), ikan kancra (Jabar).
Sedangkan di negara tetangga, Malaysia, ikan ini populer dengan nama mahseer dan wang puliau (Bahasa Mandarin, artinya: tak terlupakan).
Sepintas ikan dewa mirip dengan ikan mas. Spesies asli Indonesia ini berukuran sangat besar. Tor tambroides beratnya bisa mencapai 50 kg, paling besar dibanding ikan sejenisnya.
Sementara ikan dewa lainnya, seperti Tor tambra sekitar 3 kg, Tor douronensis 3-5 kg, dan Tor soro kurang dari 10 kg.
Bentuk kepala yang agak panjang diduga agar memudahkannya berenang di habitat berarus.
Mulutnya besar dan posisinya yang agak di bawah diduga untuk menyesuaikan diri dengan makanan pada substrat di dasar sungai.
Moncong bulat atau runcing, lubang hidung dekat mata daripada moncong, bagian di antara mata rata.
Selain itu, terdapat dua pasang kumis di dekat rahang dan moncong yang memiliki panjang sama.
Ikan dewa memiliki pola warna yang menarik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai ikan hias. Umumnya perpaduan antara biru, merah, dan kuning.
Ikan dewa cenderung agresif. Berloncatan seperti lumba-lumba.
Dari segi nilai ekonomis, ikan dewa lebih mahal ketimbang ikan tawar lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gizi ikan dewa tidak kalah dengan ikan salmon dari Amerika, begitu juga dengan rasanya. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva