RADAR MALIOBORO – Kepergian Kanjeng Sinuhun Pakubuwono XIII menjadi momen bersejarah bagi Keraton Surakarta dan masyarakat Jawa. Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, sebuah situs sakral yang menjadi peristirahatan terakhir para raja Mataram dan keturunannya.
Baca Juga: Rahasia Aroma Tubuh: Makanan yang Bisa Bikin Anda Lebih Wangi Secara Alami
Imogiri bukan sekadar kompleks pemakaman. Terletak di Bukit Merak, Dusun Pajimatan, Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, tempat ini menyimpan jejak panjang sejarah Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan besar yang lahir pada akhir abad ke-16 dan mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Baca Juga: Tragedi Longsor di Italia: Ayah dan Anak Perempuan Tewas Bersama dalam Pelukan
Dari Mataram, lahirlah dua Kerajaan penerus yang masih eksis hingga kini, Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 membagi wilayah kekuasaan, peninggalan Mataram pun tersebar di dua wilayah tersebut. Salah satu warisan paling menonjol adalah Kompleks Makam Imogiri, yang dibangun sekitar tahun 1632 atas perintah Sultan Agung.
Baca Juga: Pakubuwono XIII Berpulang: Jejak Sang Raja dalam Menjaga Marwah Keraton Surakarta
Kompleks seluas 10 hektare ini awalnya direncanakan beradi di Giriloyo. Namun, setelah Panembahan Juminah, pengawas pembangunan, wafat dan dimakamkan di sana, Sultan Agung memindahkan lokasi ke Imogiri. Bukit tinggi dipilih karena diyakini sebagai tempat sakral, tempah arwah leluhur bersemayam.
Baca Juga: Kereta Pusaka Bergerak Lagi: Simbol Sakral Penghantar Raja Surakarta Menuju Keabadian
Pemakaman Pakubuwono XIII mengikuti tata cara adat yang telah dijalankan turun-temurun. Ia dimakamkan di Astana Kasunanan Surakarta Hadiningrat, salah satu dari tiga bagian utama kompleks makam. Makam raja Surakarta terbagi menjadi empat astana, sementara makam raja Yogyakarta berada di sayap timur dan terbagi menjadi tiga astana.
Baca Juga: Rekomendasi Film Komedi Romantis yang Wajib Ditonton Saat Santai
Untuk mencapai area utama makam, pengunjung harus menaiki sekitar 400 anak tangga di lereng bukit setinggi ±100 meter. Jalur cura mini menjadi simbol perjalanan spiritual menuju tempat yang disucikan. Setiap gapura dan dinding bata merah di kompleks ini memiliki filosofi mendalam, menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: Lagi, Binaan Astra Honda Melesat Kencang di Barcelona Ciptakan Sejarah Untuk Indonesia.
Selain nilai sejarahnya, Imogiri juga dikenal sebagai pusat tradisi ziarah. Pengunjung wajib mengenakan pakaian adat Jawa seperti beskap atau pranakan. Jam kunjungan dibuka terbatas, Senin dan Minggu pukul 10.00-13.00, Jumat pukul 13.00-16.00, serta pada tanggal-tanggal khusus seperti 1, 8, dan 10 Syawal. Selama bulan Ramadan, kompleks ini ditutup untuk umum.
Baca Juga: UMKM dan Perajin Batik Yogyakarta Ramaikan Grand Launching HERITAVERSE di Surabaya
Pemakaman Pakubuwono XIII bukan hanya prosesi adat, tetapi juga penanda berakhirnya satu era kepemimpinan dalam sejarah panjang Kasunanan Surakarta. Imogiri kembali mencatat satu nama besar dalam daftar panjang raja-raja Mataram yang tela berpulang, menjaga tradisi dan spiritual Jawa tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
(Hanifah Okta)