Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Masalah Royalti, Stasiun Tugu dan Lempuyangan Hentikan Pemutaran Lagu Sepasang Mata Bola

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:55 WIB
Penghentian Lagu "Sepasang Mata Bola" di Stasiun Tugu dan Lempuyangan.
Penghentian Lagu "Sepasang Mata Bola" di Stasiun Tugu dan Lempuyangan.

RADAR MALIOBORO – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 6 memutuskan untuk menghentikan pemutaran lagu Sepasang Mata Bola karya Ismail Marzuki di Stasiun Tugu dan Stasiun Lempuyangan.

Keputusan menghentikan pemutaran lagu ini tidak datang tanpa alasan. Pihak KAI Daop 6 Yogyakarta menjelaskan bahwa langkah ini bersifat sementara dan berkaitan erat dengan regulasi hak cipta dan royalti.

Penghentian ini dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan lagu-lagu di area publik, termasuk stasiun, sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Penghentian ini juga berlaku untuk lagu-lagu khas di stasiun lain di wilayah Daop 6, seperti lagu "Bengawan Solo" di Stasiun Solo Balapan.

Hal ini menunjukkan langkah serius KAI dalam menanggapi masalah royalti musik yang belakangan menjadi isu hangat di Indonesia.

Banyak pihak, terutama para musisi dan pencipta lagu, menegakan hak cipta agar mereka bisa mendapatkan imbalan yang layak atas karya-karya mereka yang dinikmati secara komersial di ruang publik.

Lagu "Sepasang Mata Bola" sendiri memiliki sejarah yang sangat erat dengan dunia perkeretaapian dan Kota Yogyakarta.

Ismail Marzuki menciptakan lagu ini pada tahun 1946, saat ia tiba di Stasiun Tugu.

Liriknya yang syahdu mengisahkan suasana senja dan perjuangan para pejuang kemerdekaan. Lagu ini kemudian menjadi salah satu lagu kebangsaan yang penuh semangat patriotik dan nasionalis, bahkan menjadi lagu favorit Presiden ketiga RI, B.J. Habibie, yang sering ia dengarkan untuk membangkitkan semangat.

Dengan makna yang begitu mendalam, tidak heran jika "Sepasang Mata Bola" dipilih sebagai melodi penyambut di Stasiun Tugu dan Lempuyangan.

Lagu ini tidak hanya menyajikan melodi yang indah, tetapi juga menyajikan napas sejarah dan semangat perjuangan yang terasa di setiap sudut kota pelajar ini.

Pemutaran lagu ini seolah menjadi simbol penghormatan atas masa lalu, mengingatkan setiap pendatang akan peran penting Yogyakarta dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Meskipun saat ini stasiun-stasiun tersebut "membisu" tanpa alunan musik yang ikonik, PT KAI Daop 6 Yogyakarta menyatakan komitmennya untuk segera menyelesaikan proses administrasi dan membuka kembali kemungkinan untuk memutar lagu-lagu tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa KAI berupaya mencari solusi terbaik, yaitu tetap memberikan pengalaman berkesan bagi pelanggan sambil memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang ada.

(Adessia Miftahullatifah)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sepasang mata bola #stasiun lempuyangan #royalti lagu #stasiun tugu