Yogyakarta – Tragedi kembali menimpa dunia kesehatan Indonesia. dr. Myta Aprilia Azmi, dokter magang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri), meninggal dunia pada Jumat, 1 Mei 2026.
Kematiannya yang diduga akibat infeksi paru-paru dan kelelahan akibat beban kerja berat memicu keprihatinan mendalam serta desakan reformasi sistem internship dokter di Tanah Air.
Menurut laporan Ikatan Alumni FK Unsri (IKA FK Unsri) dan berbagai media nasional, dr. Myta bertugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Selama tiga bulan ia bekerja tanpa hari libur di bangsal dan Instalasi Gawat Darurat (IGD), dengan jadwal jaga malam yang padat.
Meski sudah melaporkan gejala demam dan sesak napas sejak Maret 2026, kondisinya justru semakin memburuk hingga saturasi oksigen turun di bawah 80%.
Ia sempat dirawat intensif di RS Mohammad Hoesin, Palembang, Sumatera Selatan, sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kasus ini menjadi kematian dokter internship keempat dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Sebelumnya, tiga dokter magang lainnya meninggal dengan dugaan komplikasi demam berdarah, anemia, dan campak, yang juga dikaitkan dengan kelelahan dan minimnya waktu istirahat.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan berbagai organisasi profesi mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan mendasar. Beberapa poin yang diusulkan meliputi:
Pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per minggu
Penjaminan hak cuti dan istirahat
Peningkatan standar upah minimum dokter internship
Pengawasan ketat terhadap rumah sakit penyelenggara program internship
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah merespons cepat dengan menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus dr. Myta, termasuk audit rekam medis dan proses medical check-up.
Tidak menutup kemungkinan sanksi berupa penghentian sementara program internship di rumah sakit yang tidak memenuhi standar.
Kabar duka ini cepat menyebar dan menuai simpati publik, terutama di kalangan mahasiswa kedokteran dan dokter muda. Banyak yang menyoroti fenomena “eksploitasi” dokter magang dengan gaji rendah namun tanggung jawab tinggi, sering kali tanpa supervisi memadai.
Keluarga dr. Myta di Muaradua, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumsel, kini menanti hasil investigasi resmi untuk mengetahui penyebab pasti kematian putri mereka. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin