Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Israel Pastikan Akan Kembali ke Gencatan Sejata Usai Serangan di Gaza

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 21 Oktober 2025 | 13:15 WIB
Asap mengepul setelah serangan Israel di Gaza tengah pada hari Minggu (Sumber: BBC)
Asap mengepul setelah serangan Israel di Gaza tengah pada hari Minggu (Sumber: BBC)

RADAR MALIOBORO – Militer Israel mengumumkan akan melanjutkan penegakan gencatan senjata di Gaza setelah melancarkan serangkaian udara pada hari Minggu. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas apa yang mereka sebagai “pelanggaran terang-terangan” oleh Hamas, yang dipicu oleh penembakan rudal anti-tank dan tembakan ke pasukan Israel di Rafah yang menewaskan dua tentara. 

Di sisi lain, Hamas membantah mengetahui bentrokan tersebut dan mengatakan pihaknya tetap berkomitmen pada gencatan senjata, namun menuduh Israel sebagai pihak yang melanggar. Hamas memperingatkan bahwa serangan Israel dapat “mendorong situasi ke arah kehancuran total”. Serangan balasan Israel mengenai sasaran Hamas di seluruh Gaza, dan sumber rumah sakit melaporkan total 44 korban tewas. 

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah “memulai kembali penegakan gencatan senjata” setelah pukul 21.00 dan berjanji akan menanggapi setiap pelanggaran dengan tegas, meskipun tidak mengklarifikasi status bantuan ke Gaza. 

Presiden AS Donald Trump memastikan gencatan senjata masih berlaku, menyalahkan penembakan yang terjadi pada Hamas atau “pemberontak di dalam” kelompok tersebut. Kesepakatan awal gencatan senjata, yang dimulai 10 Oktober, melibatkan penghentian pertempuran, penarikan sebagai pasukan Israel, peningkatan bantuan, serta pertukaran sandera (Hamas membebaskan semua sandera hidup) dan tahanan (Israel membebaskan 250 tahanan dan 1.718 tahanan dari Gaza).

Kesepakatan gencatan senjata diuji oleh hari kekerasan terpuruk di Gaza sejak konferensi perdamaian Trump di Mesir. Eskalasi dipicu pada hari Minggu ketika Militer Israel (IDF) menyatakan pasukannya diserang dengan rudal anti-tank dan tembakan saat membongkar infrastruktur teroris di Rafah, Gaza Selatan, menewaskan dua tentara Israel. 

Sebagai balasan, IDF melancarkan serangan udara dan artileri, sementara Hamas membantah mengetahui bentrokan tersebut, mengklain kontak dengan kelompok mereka di Rafah telah telah terputus maret. Perdana Menteri Netanyahu menginstruksikan tindakan tegas terhadap sasaran teroris, sementara tekanan AS meningkatkan, dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan segera tiba di Israel untuk menjaga kesempakatan tetap berjalan. 

Serangan Israel dilaporkan meluas ke Khan Younis Timur dan Gaza Tengah, menimbulkan kepanikan di antara keluarga pengungsi dan menyebabkan korban jiwa sipil dan militer. Di Khan Younis, sedikitnya 12 serangan udara menyebabkan asap tebal dan kepanikan. 

Di Gaza tengah, totoal sembilan jenazah dibawa ke Rumah Sakit al-Aqsa dari dua serangan terpisah, termasuk atau serangan yang menghantam kafe tepi pantai/tenda di al-Zawaida. Ena, korban dari serangan al-Zawaida adalah anggota Brigade al-Qassam, termasuk Yahya al-Mabhouh, komandan elit Hamas, menandai salah satu kerugian terbesar kelompok itu sejak gencatan senjata. 

Secara terpisah, empat jenazah, termasuk wanita dan anak-anak, juga dibawa ke Rumah Sakit Al-Awda setelah serangan udara Israel menghantam sekolah yang melindungi pengungsi di Nuseirat. 

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata 20 poin yang ditengahi Trump, Hamas seharusnya menyerahkan persenjataannya sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel. Hamas menuduh Israel mempersenjatai sekelompok penjarah kriminal yang katanya beroperasi tanpa hukuman di separuh wilayah jalur Gaza yang dikuasai Israel. 

Hamas, yang telah memerintah wilayah tersebut selama 18 tahun, menghadapi tantangan dari kelompok bersenjata, seperti Pasukan Populer Abu Shabab, geng yang menurutnya dipersenjatai dan didukung oleh Israel. 

Para militan dilaporkan mendapatkan serangan mendadak dari tank, yang menyebabkan terjadinya baku hantam tembak dingkat sebelum pesawat tempur Israel mengebom lokasi tersebut. 

Seorang pejabat militer Israel kemudian mengatakan ada “setidaknya tiga insiden di mana Hamas menembaki pasukan kami yang berdiri di belakang garis kuning,” dan menambahkan serangan itu “tidak terkait dengan jenis pertempuran internal apa pun”.

Meskipun pasukan IDF masih menguasai lebih dari 50% wilayah Gaza dan konflik telah menewaskan setidaknya 68.000 orang sejak serangan 7 Oktober 2023, gencatan senjata berada di bawah tekanan besar. Serangan di Rafah terjadi tak lama setelah AS mengklaim memiliki “laporan kredibel” bahwa Hamas merencanakan serangan “segera” terhadap warga sipil di Gaza, tindakan yang dianggap AS sebagai pelanggaran serius yang akan merusak kemajuan mediasi, klaim ini dibantah keras oleh Hamas. 

Keterangan seamkin diperumit oleh bentrokan internal di Kota Gaza yang menawaskan 27 orang, dan peringatkan keras dari Presiden Trump kepada Hamas untuk tidak membunuh warga sipil.

(Hanifah Okta Romadhoni)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#serangan #militer #israel #gencatan senjata #hamas