Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Presiden Jerman Sebut Perang AS-Israel Lawan Iran Langgar Hukum Internasional, Menhan Pistorius Khawatir Harga Energi Melambung di Eropa

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 25 Maret 2026 | 04:35 WIB

Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.
Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.

JAKARTA – Perang AS-Israel terhadap Iran yang meletus sejak serangan udara 28 Februari 2026 menuai kritik keras dari Jerman.

Presiden Frank-Walter Steinmeier menyebut konflik tersebut sebagai “pelanggaran hukum internasional” sekaligus “kesalahan politik yang sangat buruk”.

Sementara Menteri Pertahanan Boris Pistorius lebih fokus pada dampak ekonomi bagi Eropa, termasuk kenaikan harga energi yang bisa memukul masyarakat.

Pernyataan Steinmeier disampaikan dalam pidato di Kementerian Luar Negeri Jerman pada Selasa (24/3/2026).

Ia menegaskan bahwa justifikasi AS soal ancaman iminen dari Iran “tidak berdasar”.

Menurutnya, perang ini tidak perlu terjadi jika tujuannya hanya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

“Ini adalah kesalahan politik yang benar-benar bisa dihindari. Ada jurang yang dalam antara Jerman dan Amerika Serikat, dan kepercayaan terhadap kekuasaan Amerika telah hilang,” ujar Steinmeier, seperti dilansir DW dan berbagai media internasional.

Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan dampak invasi Rusia ke Ukraina, di mana hubungan Jerman dengan Moskow tidak pernah kembali seperti semula.

“Tidak akan ada jalan kembali ke sebelum 20 Januari 2025,” tambahnya, merujuk pada pelantikan Presiden Donald Trump untuk periode kedua.

Menanggapi pernyataan presiden, Menteri Pertahanan Boris Pistorius mengakui bahwa legalitas perang tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi.

Namun, ia menekankan urgensi menghentikan konflik secepatnya demi mencegah dampak lebih luas.

Pistorius menolak keras permintaan Trump agar Jerman ikut terlibat secara militer.

“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” tegasnya dalam pernyataan sebelumnya.

Ia khawatir eskalasi perang akan menyebabkan harga energi melonjak tajam di Eropa, mengingat ketergantungan benua itu pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, Trump dilaporkan sedang mendorong perundingan untuk de-eskalasi konflik, meski serangan udara masih berlanjut di beberapa wilayah Iran.

Konflik yang dimulai dengan serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 ini telah memicu kenaikan harga minyak dunia.

Analis memprediksi jika Selat Hormuz terganggu, harga BBM dan energi di Eropa—termasuk Jerman—bisa naik signifikan, membebani rumah tangga dan industri.

Pernyataan Steinmeier yang jarang sekali sekeras ini mencerminkan adanya perpecahan di dalam pemerintahan Jerman.

Presiden yang berperan lebih seremonial ini tampaknya mengambil sikap moral, sementara pemerintah (kanselir) dan kementerian pertahanan lebih berorientasi pada aspek praktis dan keamanan energi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari Washington atau Tel Aviv terhadap kritik Jerman.

Namun, pernyataan ini semakin memperlebar jurang transatlantik di tengah ketegangan global. (iwa) 

(Sumber: DW, Politico, Reuters, dan laporan internasional lainnya) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#timur tengah #frank-walter steinmeier #AS Israel Iran #perang iran