Pentagon – Pentagon Amerika Serikat sedang mempersiapkan rencana operasi darat selama beberapa minggu di Iran. Operasi ini bersifat terbatas, bukan invasi skala penuh, dan melibatkan pasukan khusus serta infanteri konvensional, termasuk serangan mendadak ke Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran. Laporan ini dikutip dari The Washington Post, berdasarkan pernyataan pejabat AS anonim, di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memasuki pekan kelima.
Menurut sumber tersebut, rencana mencakup pengambilalihan Pulau Kharg—tempat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran berlalu—serta serangan ke instalasi militer pesisir dekat Selat Hormuz untuk menghancurkan senjata yang mengancam kapal komersial dan militer. Ribuan pasukan Marinir dan tentara AS, termasuk dari USS Tripoli, telah dikerahkan ke kawasan tersebut untuk memberikan opsi fleksibel bagi Presiden Donald Trump.
Namun, rencana ini bertentangan dengan pernyataan publik pemerintahan Trump. Baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Marco Rubio meyakinkan sekutu G7 bahwa operasi AS bisa dicapai tanpa pasukan darat dan akan selesai dalam hitungan minggu, bukan bulan. Trump sendiri pernah berjanji tidak akan mengerahkan pasukan darat ke wilayah konflik.
Risiko Tinggi dan Sejarah Perang Game yang Mengkhawatirkan
Iran memiliki kekuatan militer signifikan dengan sekitar 610.000 personel aktif, ditambah ratusan ribu cadangan dan pasukan paramiliter Basij. Negara ini telah mempersiapkan pertahanan selama puluhan tahun, termasuk jaringan terowongan bawah tanah yang luas di pegunungan, gurun, dan pulau-pulau.
Sebuah simulasi perang AS pada 2002, Millennium Challenge, pernah mensimulasikan invasi serupa terhadap kekuatan mirip Iran. Hasilnya mengejutkan: pasukan "merah" (simulasi musuh) berhasil menghancurkan 16 kapal perang AS dalam hitungan menit menggunakan taktik asimetris seperti serangan rudal massal dan perahu cepat. Simulasi sempat dihentikan dan diulang dengan pembatasan ketat agar pihak AS "menang".
Para ahli memperingatkan bahwa operasi darat di Iran berisiko berubah menjadi perang attrisi panjang, dengan potensi korban tinggi di kalangan pasukan AS dan dampak ekonomi global akibat gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Respons dan Kekhawatiran Internasional
Di media sosial X (Twitter), laporan Washington Post memicu perdebatan sengit. Beberapa pengguna menyebut rencana ini sebagai "perang pilihan" yang bisa mengorbankan nyawa tentara AS sia-sia, sementara yang lain mengingatkan bahwa Iran telah siap selama 40-47 tahun dengan strategi pertahanan mendalam.
Konflik ini bermula dari serangan balasan Iran terhadap aset AS di kawasan, termasuk pangkalan di Arab Saudi, yang merusak aset militer bernilai miliaran dolar.
Sampai saat ini, Trump belum memberikan keputusan akhir. Pengerahan pasukan disebut untuk "opsi maksimal", namun jurang antara pernyataan publik dan persiapan internal Pentagon menjadi sorotan utama.
Apa dampaknya bagi Indonesia?
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga minyak dunia, yang langsung memengaruhi inflasi BBM dan ekonomi nasional. Masyarakat Indonesia diimbau mewaspadai gejolak harga energi jika eskalasi berlanjut. (iwa)
(Sumber: The Washington Post, Reuters, dan analisis militer terkait)
Editor : Iwa Ikhwanudin