Museum Monjali memiliki sejarah dalam perjuangan kemerdekaan yang terletak di Sleman, Yogyakarta.
Dibangun untuk memperingati kembalinya Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia setelah penarikan tentara kolonial Belanda pada tahun 1949.
Dilansir dari Dinas Kebudayaan DIY, Museum Monumen Yogya Kembali (Monjali) berdiri sebagai pengingat peristiwa bersejarah Yogya Kembali pada 29 Juni 1949, saat Belanda menarik pasukannya dari Yogyakarta dan kota ini kembali menjadi Ibu Kota Indonesia.
Peristiwa ini merupakan hasil Perjanjian Roem Royen yang lahir atas desakan PBB setelah Serangan Umum 1 Maret 1949.
Diorama, relief, dan koleksi museum lainnya di Monjali memberikan gambaran jelas tentang Yogya Kembali, termasuk momen penarikan mundur pasukan Belanda, kembalinya para tokoh nasional, dan kemerdekaan penuh Indonesia.
Museum ini menjadi tempat untuk mengenang perjuangan para pahlawan dan mempelajari sejarah bangsa.
Bangunan Monjali berbentuk kerucut dengan 3 lantai dan dikelilingi kolam ikan.
Arsitektur ini memiliki makna simbolis: kolam sebagai pengaman dan penolak kejahatan, dan air sebagai lambang kesucian.
Diharapkan pengunjung merasa tenang dan siap memahami sejarah perjuangan kemerdekaan di museum.
Museum terbagi menjadi 3 lantai dengan koleksi dan diorama yang menceritakan peristiwa penting dalam perjuangan kemerdekaan di Yogyakarta.
Baca Juga: Kaya Akan Serat, Berikut 5 Alasan Mengapa Markisa Cocok Untuk Jadi Cemilan Saat Diet
Lantai 1 memamerkan koleksi tentang proklamasi kemerdekaan, perang gerilya, Serangan Umum 1949, dan Yogyakarta sebagai Ibu Kota Negara.
Lantai 2 terdapat zona diorama dan relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan, dan di area outdoor terdapat 40 relief yang menceritakan peristiwa serupa.
Lantai 3 adalah Ruang Garba Graha, ruang hening untuk mendoakan arwah para pahlawan yang gugur.
Museum Monjali bukan hanya tempat melihat koleksi sejarah, tetapi juga tempat untuk merenungkan perjuangan para pahlawan dan memperkuat rasa nasionalisme.
Keunikan arsitektur, koleksi sejarah, dan suasana hening menjadikannya destinasi wisata edukasi yang menarik bagi semua usia.
Editor : Bahana.