Merasa Bugar tapi Tensi Tinggi? Dokter Jantung Ingatkan Bahaya Silent Killer, Omron Hadirkan Solusin

JOGJA - Merasa tubuh bugar bukan jaminan tekanan darah sedang baik-baik saja.
Di dunia medis, hipertensi kerap dijuluki silent killer karena mampu merusak tubuh dalam senyap tanpa memicu sakit kepala, sesak napas, atau nyeri dada, bahkan saat angka tensi telah menembus 160–170 mmHg.
Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Bagus Andi Pramono, Sp.JP, FIHA, menegaskan bahwa tensi tinggi yang diabaikan perlahan mengikis kelenturan dinding pembuluh darah.
Dampaknya tidak main-main, memicu komplikasi fatal pada organ vital seperti jantung, otak, ginjal, hingga retina mata.
Baca Juga: Viral, Sekelompok Orang Selawatan di Gerbong MRT, Soal Kenyamanan dan Etika Jadi Perbincangan Publik
"Tekanan darah bersifat dinamis sepanjang hari karena dipengaruhi aktivitas fisik, stres, ritme sirkadian, hingga kualitas tidur. Saat tidur lelap, tensi idealnya turun 10–20 mmHg. Jika penurunan alami ini tidak terjadi, itu sinyal penting untuk segera memeriksakan diri," jelas dr. Bagus di acara Omron Experience Center, Bringing Better Service Center to You, Jogja, 20 Agustus 2026.
Ia juga mengingatkan pasien agar tidak menghentikan obat sepihak saat tensi kembali normal.
Hipertensi umumnya membutuhkan kontrol jangka panjang demi mencegah lonjakan tensi mendadak pemicu stroke dan serangan jantung.
Seseorang dinyatakan mengalami hipertensi jika tensinya konsisten berada di atas 140/90 mmHg.
Kondisi ini menjadi perhatian serius di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana prevalensi hipertensi mencapai 31,8% (SKI 2023).
Menjawab tantangan tersebut, OMRON Healthcare Indonesia meresmikan OMRON Experience Center (OEC) di Datascrip Service Center, Jl. Gajahmada No. 21, Pakualaman, Yogyakarta, pada 20 Agustus 2026.


